Jakarta, beritalima.com| – Museum Perumusan Naskah Proklamasi, salah satu unit di bawah pengelolaan Balai Pelestarian Kebudayaan DKI Jakarta, gelar aksi Tapak Tilas Proklamasi sebagai bagian dari rangkaian peringatan Bulan Proklamasi, berlangsung pada 16 Agustus 2026 di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Menteng, Jakarta
Acara ini dihadiri oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, beserta jajaran, keluarga tokoh perumus naskah proklamasi, komunitas, pelajar, dan masyarakat umum, juga menyajikan pameran foto perjuangan dan numismatik.
Museum Perumusan Naskah Proklamasi merupakan salah satu museum sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sebagai museum sejarah, lembaga ini bertugas menyebarluaskan informasi mengenai peristiwa–peristiwa sejarah yang berkaitan erat dengan Proklamasi Kemerdekaan.
Pada awal 1980, kegiatan Tapak Tilas dilakukan Dewan Harian Nasional 45 dengan titik awal di Gedung Menteng 31 (Museum Joang 45) dan berakhir di Tugu Proklamasi. Saat itu pawai hanya melintasi gedung di Jalan Imam Bonjol No. 1 karena museum belum didirikan. Lalu 24 Maret 1987, gedung di Jalan Imam Bonjol No. 1 diserahterimakan oleh Kementerian Keuangan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan museum bersejarah.
Saat 16 Agustus 1987, museum ini berfungsi sebagai tempat transit. Peserta dari Museum Joang 45 memasuki dan berkeliling melihat koleksi museum sebelum melanjutkan perjalanan ke Tugu Dan, setelah Museum Perumusan Naskah Proklamasi resmi berdiri pada 24 November 1992, mandat penyelenggaraan kegiatan Tapak Tilas dialihkan dari Dewan Harian Nasional 45 kepada pihak museum, dengan tetap bekerja sama dengan Museum Joang 45 dan Dewan Harian Daerah (DHD) 45.
Kegiatan Tapak Tilas Proklamasi merupakan program tahunan Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang selalu digelar setiap 16 Agustus, sebagai sebuah peristiwa penting dan krusial dilakukan para pemuda Indonesia untuk mengajak Soekarno-Hatta membuat Proklamasi Kemerdekaan. Kegiatan ini bertujuan mengenang kembali peristiwa penting detik-detik proklamasi serta menanamkan semangat perjuangan dan nilai-nilai kepahlawanan para tokoh kemerdekaan kepada generasi muda.
Pada pameran foto dan numismatik bertajuk “Merdeka, Berdaulat, dan Menempa Rupa: Kilas Balik Proklamasi dan Perjalanan Mata Uang sebagai Saksi Kemerdekaan”, hasil sinergi Kementerian Kebudayaan bekerjasama dengan Perum LKBN ANTARA, komunitas pecinta numismatik, dan Museum Uang Sumatera di Medan.
Pameran ini merefleksikan kembali pentingnya dokumentasi visual Proklamasi 17 Agustus 1945 karya Frans Mendur yang berhasil diselamatkan dari razia tentara Jepang, dan dipublikasikan enam bulan kemudian melalui buku bersejarah MERDEKA-Nomor Peringatan 6 Boelan Repoeblik Indonesia pada 17 Februari 1946 dan surat kabar Merdeka. Penerbitan khusus setebal 124 halaman yang diinisiasi oleh B.M. Diah bersama para tokoh pers nasional tersebut menjadi sumbangsih penting dalam perjalanan sejarah bangsa.
Lainnya, pameran menampilkan jajaran koleksi 1.500 tahun numismatik yang merunut sejarah panjang alkat tukar di Nusantara. Kehadiran koleksi fisik mata uang lintas zaman tersebut menjadi representasi nyata dari manifestasi mata uang sebagai simbol kedaulatan dan penanda penting atas lahir dan berdirinya Republik Indonesia. Pameran dibuka untuk umum pada 16–22 Agustus 2026, pukul 08.00 -16.00 WIB.
Jurnalis: abri/andaka








