Nanas Kohar Diserbu Pembeli, Kirab Sound Horeg Jadi “Rezeki Nomplok” bagi Pedagang hingga Pemulung

  • Whatsapp
Foto: Pedagang nanas laku keras di acara kirab budaya sound horeg desa Benculuk. (Doc, Rony Subhan)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Dentuman sound horeg dalam Kirab Budaya Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, ternyata tak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat. Di balik ramainya ribuan penonton yang memadati sepanjang rute, ada cerita lain yang ikut bergerak: rezeki para pelaku usaha kecil.

Sejumlah pedagang kaki lima mengaku mendapatkan keuntungan lebih dari biasanya. Salah satunya Kohar, pedagang buah nanas asal Kecamatan Srono. Sejak sore, ia sudah membawa puluhan bungkus nanas yang telah dikupas, dibersihkan dan dikemas dalam plastik agar praktis disantap.

Bacaan Lainnya

Dari 70 bungkus nanas yang dibawanya, pada sekitar pukul 19.30 WIB tinggal 12 bungkus. Padahal saat itu kirab masih menyisakan lima peserta dari total 27 rombongan yang dijadwalkan melintas.

“Saya tadi bawa 70 bungkus, ini tinggal 12. Alhamdulillah laku keras, Mas. Sound horeg membawa berkah buat saya,” ujar Kohar.

Kohar bahkan optimistis dagangannya bakal habis sebelum keramaian berakhir. Menurutnya, waktu masih cukup panjang dan arus penonton masih terus berdatangan.

“Masih panjang waktunya. Mudah-mudahan nanti habis semua. Kalau ada acara kirab budaya sound horeg di desa-desa lain, saya biasanya ikut datang jualan. Lumayan untuk menambah penghasilan,” tambahnya.

Foto: Peserta kirab budaya memakai kostum tradisional modern nampak anggun. (Doc, Rony Subhan)

Kisah serupa dialami Suroso, pedagang kacang. Ia membawa sekitar 55 bungkus dagangan. Saat suasana semakin ramai, dagangannya tersisa sekitar 15 bungkus.

“Ini tinggal 15 bungkus. Lumayan, pembelinya ramai malam ini. Mudah-mudahan sampai acara selesai bisa habis,” ungkap Suroso.

Bukan hanya nanas dan kacang yang kebagian berkah. Hampir seluruh pedagang yang membuka lapak di sepanjang jalur kirab ikut merasakan ramainya pembeli.

Ada pedagang makanan dan minuman, pedagang keliling hingga warga yang membuka lapak dadakan. Bahkan mereka yang menjual alas untuk duduk, pengamen berkostum badut hingga pemulung juga ikut mendapatkan bagian dari perputaran ekonomi yang muncul di tengah keramaian.

Bagi sebagian warga, inilah sisi lain dari sebuah keramaian. Ketika ribuan orang berkumpul, kebutuhan mereka pun ikut menciptakan peluang bagi masyarakat sekitar.

Namun, fenomena tersebut juga memunculkan pandangan yang beragam mengenai keberadaan sound horeg.

Foto: Iring-iringan Kirab budaya sound horeg desa Benculuk, Banyuwangi. (Doc, Rony Subhan)

Uny Saputra, Ketua Perkumpulan Pendopo Semar Nusantara, melihat kegiatan seperti kirab budaya sound horeg memiliki sisi positif dan negatif. Menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana kegiatan tersebut dikelola agar manfaatnya bisa dirasakan masyarakat tanpa mengabaikan ketertiban dan kenyamanan lingkungan.

“Setiap kegiatan masyarakat pasti ada plus dan minusnya. Ada yang melihat dari sisi suara atau dampaknya, tetapi kita juga tidak bisa menutup mata bahwa ketika ada keramaian seperti ini, ada perputaran ekonomi yang dirasakan warga,” jelas Uny.

Menurutnya, pedagang kecil yang biasanya hanya mengandalkan penghasilan harian mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan pendapatan ketika ada kegiatan besar.

“Kita lihat sendiri, pedagang nanas, kacang, makanan, minuman, bahkan pengamen dan pemulung ikut mendapatkan rezeki. Artinya ada manfaat ekonomi yang nyata. Tinggal bagaimana semua pihak bisa menjaga agar kegiatan tetap tertib, menghormati masyarakat sekitar dan tidak merugikan lingkungan,” tambahnya.

Ia berharap setiap kegiatan budaya dan hiburan masyarakat bisa menjadi ruang kebersamaan sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi warga.

“Kalau bisa berjalan tertib, saling menghargai dan ada pengaturan yang baik, kegiatan seperti ini bisa menjadi hiburan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat. Jadi bukan hanya penonton yang senang, tetapi pelaku UMKM juga mendapatkan manfaat,” pungkas Uny.

Foto: Peserta kirab budaya saat perform menampilkan drama kolosal memukau penonton. (Doc, Rony Subhan)

Malam itu, di antara dentuman sound horeg dan kerumunan penonton, ada cerita-cerita kecil yang mungkin luput dari perhatian.

70 bungkus nanas berubah menjadi tinggal 12. 55 bungkus kacang menyusut menjadi 15.

Sementara di sepanjang jalan, pedagang terus melayani pembeli.

Kirab budaya pun akhirnya bukan sekadar parade hiburan. Bagi sebagian warga, keramaian itu menjelma menjadi pasar dadakan, tempat rezeki datang dari arah yang tak disangka-sangka. (Rony//B5)

beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait