BANYUWANGI,Beritalima.com – Ada saja cerita unik di balik kemeriahan Pawai Kirab Budaya Sound Horeg Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Di tengah puluhan barisan yang sibuk mempersiapkan kolosal, danser hingga berbagai ornamen, seorang penggiat sound horeg justru memilih tampil dengan cara yang berbeda.
Dia adalah Mamad, Ketua KDMP Desa Benculuk. Tak ingin sekedar menjadi penonton, Mamad nekat menyewa satu unit sound horeg menggunakan biaya sendiri tanpa mengandalkan rombongan atau bantuan peserta lainnya.
Bukan sound sembarangan. Mamad mendatangkan Putra Angkasa, sound system yang dikenal di kalangan penggemar sound horeg dan berasal dari Desa Sarimulyo, Banyuwangi.
Yang membuatnya semakin unik, sound tersebut nantinya tetap ikut bergerak dalam barisan kirab. Namun jangan membayangkan ada puluhan orang yang mengiringi, penari kolosal atau danser yang berdiri di atas truk. Tidak ada itu semua!
Bagi Mamad, keikutsertaan tersebut bukan soal seberapa banyak orang yang mengiringi, seberapa megah penampilan atau seberapa besar biaya yang dikeluarkan. Ada satu tujuan sederhana yang ingin mereka rasakan yaitu bahagia.
Mas Ali, sahabat Mamad, mengatakan keputusan tersebut memang terbilang unik. Namun menurutnya, kebahagiaan tidak harus selalu diwujudkan dengan sesuatu yang mewah dan ramai.
“Yang penting bahagia. Tidak harus punya rombongan besar, tidak harus ada kolosal atau danser. Yang penting kita bisa ikut, menikmati suasananya dan merasakan kebersamaan dengan masyarakat,” ujar Mas Ali.
Menurut Mas Ali, keberanian Mamad menyewa sound sendiri justru menunjukkan bahwa kirab budaya bisa dinikmati dengan berbagai cara. Ada yang datang membawa puluhan peserta, ada yang menampilkan koreografi lengkap, tetapi ada pula yang cukup membawa sound dan ikut berjalan menikmati kemeriahan.
“Ini kan hobi. Kalau memang senang, ya jalani. Tidak perlu terlalu memikirkan harus seperti apa. Yang penting tidak mengganggu orang lain, ikut aturan, dan kita menikmati acaranya,” tambahnya.
Nantinya, ketika puluhan barisan sound horeg mulai menyusuri rute kirab, Putra Angkasa akan ikut bergerak di antara barisan peserta lainnya.
Tanpa kolosal. Tanpa danser. Tanpa rombongan besar.
Hanya sebuah sound horeg yang berjalan mengikuti kirab, membawa semangat pemiliknya yang ingin menikmati pesta rakyat dengan cara sederhana.
Kisah Mamad ini menjadi warna tersendiri dalam Pawai Kirab Budaya Sound Horeg Desa Benculuk. Sebab terkadang, ikut meramaikan sebuah pesta tidak harus menjadi yang paling besar.
“Cukup hadir, ikut berjalan, menikmati suasana, dan pulang membawa cerita bahagia,” ucap Mamad. (Rony//B5)








