NU Nyata Tapi Tidak Aktual

  • Whatsapp
NU Nyata Tapi Tidak Aktual (foto: istimewa)

Jakarta, beritalima.com| – Kisruh dalam Nahdlatul Ulama (NU) sebaiknya jangan dipandang melalui lensa campur tangan eksternal atau betapa seksinya NU sebagai pangsa pasar politik untuk meraup suara dalam pilpres. Tapi telaah lah lewat lensa ketahanan budaya internal NU sendiri sebagai Ormas Islam dalam mematahkan serangan, intervensi dan akuisisi dari luar.

Kalau terlalu condong melihat campurtangan eksternal, seakan terpapar perasaab “Sindrom Aku Malang” yang terhipnotis bahwa kalau ada intervensi kekuasaan berarti kami tidak berdaya. Alhasil, ya sudah lah. Terima aja kenyataanya.

Nah di sini lah kerapuhan NU sebagai entitas sosial dan budaya mulai tersingkap. Ketika tersugesti dirinya tak berdaya sehingga terima saja keadaan apa adanya sekarang, warga NU berikut para elit pimpinannya, sedang dihipnotis untuk menerima sesuatu keadaan yang tidak disukai namun diperlukan.

Apa akibat atau konsekwensi strategis bagi NU sebagai satuan sosial-budaya maupun sebagai anggota komunitas? Tidak bisa membedakan kenyatan dan aktualitas. Bahwa meski NU sebagai satuan sosial-budaya nyata, namun saat yang sama tidak aktual. Malah makin ke sini makin hilang aktualitasnya.

NU itu nyata, sejak 1926 hingga kini. Alhandullilah. Tapi tidak mampu mengaktualisasikan kearifan lokal dan khazanah tradisinya yang kaya, untuk menyembuhkan penyakit-penyakit sosial di era modernisasi dan arus globalisasi. Malah ikutan terpapar penyakit penyakit orang orang modern dan metropolis.

Kenapa bisa seperti itu? Saya jadi ingat mentor spiritual saya alm Haji Mochtar Hussein. Beliau bilang: “Setiap tindakan pasti ada alasannya, dan setiap alasan pasti ada maknanya.”

Ya, itu dia. Makna biasanya buah dari suatu pemikiran dan cara pandang sebagai benih dan pupuknya. Apa itu? NU, entah sejak kapan, memandang tradisi dalam bingkai “melestarikan dan mengkonservasi” supaya sekadar  tidak punah dan tidak hilang dari peredaran digerus zaman.

Padahal tradisi bukan dilestarikan atau dikonservasi, melainkan harus diaktualisasikan sesuai dinamika dan kebutuhan zaman. Dengan tradisi dan modernisasi setara sebagai mitra dialog.

Tapi ketika NU membingkai kehadiran dan perannya sebagai satuan sosial-budaya untuk melestarikan dan mengkonservasi tradisi, dalam alam bawah sadar kolektif warga dan elit NU, tradisi berada dalam posisi lemah, inferior dan tak berdaya.

Ketika NU cuma memandang peran dirinya sebagai penjaga dan pengawal tradisi sekadar supaya tidak punah, maka tradisi sengaja atau tidak sengaja, dilokalisasi dan dimuseumkan. Namun tidak diaktualisasi dan direvitalisasi untuk menyembuhkan penyakit penyakit sosial di era modernisasi dan globalisasi. Sekarang alih alih jadi dokter-dokter jiwa abad informasi dan era digital, malah terpapar jadi pasien.

Untung  tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, penyakit penyakit modernisasi dan globalisasi malah terpapar para elit pimpinan NU, yang bisa bisa kalau jadi penyakit pandemik, bisa mewabah kepada warga NU.

Sebab akar penyakit di dalam tubuh NU saat ini bukan krisis uang, bukan krisis intelektual, lantaran warga NU yang terdidik sekarang tidak kalah kok dengan Muhamadiyah atau ormas Islam lainnya. Krisis NU saat ini bukan miskin materi atau miskin intelektual. Tapi miskin imajinasi dan miskin inspirasi di semua lapis kepemimoinan NU baik pusat maupun cabang.

Inilah yang kemudian secara medis NU sekarang menderita stroke ringan dan potensial gagal jantung. Otak dan jantung kena serangan, karena NU meninggalkan rahasia kekuatan dan visi hidupnya sendiri: Sebagai konsultan tradisi  dan penyembuh alternatif mengatasi masalah-masalah pelik dan penyakit penyakit orang-orang modern.

Mengingkari dan menghianati jatidiri NU sebagai agen agen yang menghadirkan sejarah dan tradisi untuk menginspirasi orang orang modern untuk menemukan jatidiri bangsa, inilah yang kemudian NU sendiri terkena dua penyakit orang modern: stroke dan gangguan jantung yang potensial tiba tiba gagal jantung.

Saya belajar banyak dan terinspirasi dari para penyembuh alternatif yang mana kerap saya temui kalau kesehatan saya terganggu. Misalnya, Haji Dahlan. Dari namanya saja beliau secara kultural NU. Seringkali saya sembuh dari penyakit yang saya derita, bukan karena Haji Dahlan berhasil  mengangkat penyakit yang saya sangka prostat itulag penyebabnya.

Namun belakangan saya sembuh karena Haji Dahlan sang penyembuh alternatif saya punya cara pandang beda dalam melihat penyakit saya. Ketika saya merasa potensial kena prostat,  beliau malah melihat pinggang sebelah kanan saya dan kiri saya tidak simetris. Sehingga waktu buang air.kecil saya merasa nggak tuntas, lantaran pinggang yang asimetris. Bukan prostat.

Alhasil, berkat kearifan lokal Haji Dahlan, hanya dua kali berobat, saya pulih seperti sediakala. Haji Dahlan adalah arketip atau pola dasar kejiwaan dari yang saya sebut konsultan tradisi dan penyembuh alternatif. Prototipe Haji Dahlan inilah yang membuat tradisi bukan saja nyata, tapi juga aktual.

Oleh: Hendrajit, pengkaji geopolitik, guru kelana dan wartawan freelance

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait