BANYUWANGI,Beritalima.com – Ada pemandangan nyentrik dan mengundang perhatian warga dalam pawai budaya sound horeg dalam rangka Hari Jadi Desa (Harjades) Tapanrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (19/9/2026).
Di tengah riuhnya iringan sound horeg dan barisan peserta pawai, sosok Kepala Desa sebelah, Nanang, justru tampil dengan gaya yang berbeda. Meski bukan bagian dari pemerintahan Desa Tapanrejo, Nanang terlihat begitu bersemangat ikut membaur dan memeriahkan pesta rakyat tersebut.
Penampilannya pun tak kalah menarik. Mengenakan baju bergaya anak muda lengkap dengan dasi hitam dan topi yang dikenakan terbalik, Nanang seolah larut dalam atmosfer pawai sound horeg.
Bukan hanya berdiri sebagai penonton, Nanang bahkan ikut berada di depan, memegang mikrofon sound system sambil menyapa masyarakat yang berada di sepanjang jalur pawai.
Dengan gaya khas pembawa acara sound horeg yang belakangan tengah menjadi bagian dari tren pertunjukan sound system, Nanang sesekali melontarkan cuap-cuap melalui mikrofon. Gaya bicaranya yang spontan dan penuh semangat membuat suasana pawai semakin hidup.
Aksi tersebut sontak menjadi perhatian warga. Kehadiran seorang kepala desa dengan gaya santai dan membaur bersama masyarakat menunjukkan sisi lain seorang pemimpin yang tidak selalu harus tampil formal.

Bagi warga, penampilan Nanang menjadi hiburan tersendiri. Apalagi ia datang bukan dalam kapasitas acara resmi pemerintahan, melainkan ikut menikmati sekaligus memberikan dukungan terhadap kegiatan budaya desa tetangga.
Ketua Perkumpulan Pendopo Semar Nusantara (PSN), Uny Saputra, mengapresiasi semangat Nanang yang ikut memeriahkan kegiatan tersebut.
Menurut Uny, apa yang dilakukan Nanang menunjukkan bahwa kebersamaan dalam kegiatan masyarakat tidak harus dibatasi oleh wilayah administratif desa.
“Ini yang menarik. Beliau bukan kepala desa di Tapanrejo, tetapi semangatnya luar biasa untuk ikut memeriahkan. Bahkan sampai ikut turun dan menyapa masyarakat dengan gaya anak muda,” ujar Uny.
Uny menilai, sikap tersebut menjadi contoh bagaimana seorang pemimpin dapat membangun kedekatan dengan masyarakat melalui cara yang sederhana dan santai.
“Kadang masyarakat juga membutuhkan sosok pemimpin yang mau membaur. Tidak selalu harus dengan acara formal. Ketika pemimpin ikut menikmati kegiatan rakyat, suasana kebersamaan bisa terasa lebih dekat,” imbuhnya.
Menurutnya, kemeriahan Harjades Tapanrejo bukan semata-mata tentang sound horeg. Di balik suara musik dan kemeriahan pawai, terdapat interaksi sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.

Aksi Nanang pun menjadi salah satu warna tersendiri dalam pawai budaya tersebut. Dengan pakaian nyentrik, topi terbalik dan mikrofon di tangan, ia berhasil mencairkan suasana sekaligus menunjukkan bahwa semangat memeriahkan desa bisa datang dari siapa saja.
Pawai budaya Harjades Tapanrejo akhirnya bukan hanya menyisakan kemeriahan di sepanjang rute, tetapi juga menghadirkan sejumlah momen unik yang menjadi cerita tersendiri bagi masyarakat yang menyaksikannya. (Rony//B5)







