Jakarta, beritalima.com|- Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, meresmikan rumah ibadah Cetiya Tian Shi Hua Guan Di Jing Se di Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Kabupaten Tangerang, Banten (19/7).
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra yang turut hadir mengutarakan, kegiatan ini menjadi momentum memperkuat harmoni, toleransi, dan kolaborasi nilai-nilai kebajikan sebagai fondasi ekosistem kreatif yang inklusif.
“Indonesia adalah bangsa yang dianugerahi keberagaman luar bisa dalam kehidupan latar belakang agama, budaya, dan suku bangsa. Kita kuat bukan karena memiliki keyakinan yang sama, melainkan karena mampu menghargai dan menghormati perbedaan sebagai dasar hidup bersama. Rumah ibadah menjadi tempat menumbuhkan nilai kebajikan, kasih sayang, dan semangat melayani umatnya,” ujar Yusril.
Senada dengan pernyataan tersebut, Irene Umar menyampaikan, “rumah ibadah bukan hanya sebuah ruang untuk berinteraksi. Ini adalah tempat untuk bertukar pikiran, memancarkan ide-ide, menyampaikan doa, saling memberi advice, dan membuktikan di tengah berbagai perbedaan, ada kekuatan cinta dan kekuatan persatuan yang terus memancarkan cinta kasih kepada semua.”
Irene menekankan nilai-nilai spiritual dan kepedulian sosial merupakan fondasi penting bagi lahirnya masyarakat kreatif yang berdaya saing. Baginya, rumah ibadah memiliki peran strategis dalam membangun karakter sekaligus memperkuat kolaborasi antar komunitas.
“Papa dan Mama selalu mengajarkan kepada saya ‘jadilah orang yang berguna, jangan menjadi orang yang hanya mengejar kesuksesan karena uang dan kekayaan’. Nilai itulah yang membuat saya melihat bahwa rumah ibadah terus menjadi ruang yang menenangkan sehingga muncul kepedulian, persaudaraan, dan semangat untuk saling menguatkan,” ucap Irene, yang juga didampingi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama, Supriyadi.
Sementara Ketua Cetiya Tian Shi Hua, Shi Fu Karmalie Abeng menjelaskan rumah ibadah ini merupakan hasil perjalanan panjang pelayanan sosial dan pembinaan spiritual yang telah digagas sejak 18 tahun lalu. Karmalie Abeng berharap keberadaan rumah ibadah di PIK 2 dapat terus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekaligus menjadi bagian dari penguatan nilai-nilai toleransi di Indonesia.
Jurnalis: andaka/abri








