Pawai Budaya Puja Seri 1 Gegerkan Gambiran, 22 Peserta dan Sound Horeg Sapu Jalan Dua Desa

  • Whatsapp
Foto: Peserta pawai budaya hibur ribuan penonton mereka berjalan di iringi sound horeg dan likting yang mewah. (Doc, Rony Subhan)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Dentuman sound horeg berpadu dengan warna-warni kostum peserta membuat suasana jalan desa di Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, Selasa (11/8/2026), berubah menjadi lautan manusia.

Pawai Budaya Puja Seri 1 yang merupakan gabungan Desa Purwodadi dan Desa Jajaq itu berlangsung meriah. Sebanyak 22 peserta tampil menyusuri rute sepanjang kurang lebih 4 kilometer, melintasi jalur jalan yang menghubungkan kedua desa.

Bacaan Lainnya

Sejak siang, warga dari berbagai penjuru mulai berdatangan. Tepat pukul 16.00 WIB, rombongan pawai secara resmi dilepas oleh Camat Gambiran Budi Wahono. Kepala Desa Purwodadi Suyanto, Kepala Desa Jajaq, serta Kapolsek Gambiran dan jajaran TNI serta Kepolisian sektor Gambiran, turut hadir Polpp dan jajaran Dishub Banyuwangi.

Sorak-sorai penonton pecah ketika satu per satu peserta melintas. Kreativitas, kostum, atraksi, hingga iringan sound horeg menjadi daya tarik tersendiri. Ribuan warga terlihat memadati sejumlah titik sepanjang jalur pawai.

Foto: Acara dibuka oleh Camat Gambiran Budi Wahono. (Doc, Rony Subhan)

Tak hanya penonton yang memanfaatkan momen tersebut. Puluhan bahkan ratusan pedagang kaki lima ikut meramaikan suasana. Berbagai makanan, minuman, jajanan, hingga dagangan lainnya berjajar di sepanjang lokasi yang menjadi pusat keramaian.

Kepala Desa Purwodadi, Suyanto, mengatakan Pawai Budaya tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurutnya, kegiatan sengaja digelar secara bersama karena jalur pawai melewati wilayah dua desa yang berdekatan.

“Ini rangkaian Agustusan. Rutenya melalui jalan dua desa, sehingga kita sepakat acara ini menjadi satu rangkaian,” jelas Suyanto.

Ia menambahkan, konsep pelaksanaan tahun ini berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Jika sebelumnya pawai melibatkan tiga desa, yakni Purwodadi, Jajaq, dan Wringinagung, tahun ini Desa Wringinagung memilih menggelar kegiatan sendiri.

Meski hanya melibatkan dua desa, kemeriahan tidak berkurang. Sebanyak 22 peserta tampil dengan berbagai kreasi terbaik mereka untuk menghibur masyarakat.

Salah seorang peserta mengaku tahun ini suasana pawai terasa lebih membahagiakan. Bukan semata karena bisa tampil di hadapan ribuan warga, tetapi juga karena kegiatan menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan merayakan kemerdekaan bersama.

“Tahun ini kami lebih bahagia karena bisa ikut meramaikan acara bersama warga. Persiapannya memang cukup panjang, tetapi ketika melihat antusias penonton sepanjang jalan, rasa lelah langsung terbayar,” ujarnya.

Namun di tengah euforia kemeriahan, penyelenggara juga mengingatkan pentingnya menjaga suasana agar tetap aman dan nyaman.

Foto: Tanda larangan mengeraskan suara sound, itu aturan yang disepakati oleh panitia. (Doc, Rony Subhan)

Camat Gambiran, Budi Wahono, dalam sambutannya meminta seluruh peserta, panitia, dan masyarakat menghormati kesepakatan yang telah dibuat bersama.

Ia menekankan tiga hal utama, yakni ketertiban, kebersihan, dan keamanan.

“Saya hanya ingin mengingatkan, mari kita jaga kesepakatan, yaitu menjaga ketertiban, kebersihan dan keamanan. Dalam pelaksanaan nanti harus dihormati, termasuk volume suara sound. Kita harus saling menghormati dan jangan terlalu keras,” tegas Budi.

Menurutnya, kemeriahan pawai bukan hanya soal suara musik dan penampilan peserta, tetapi bagaimana seluruh rangkaian kegiatan dapat dinikmati masyarakat tanpa mengganggu lingkungan sekitar.

Karena itu, ia meminta panitia dan seluruh peserta benar-benar mematuhi kesepakatan yang telah dibuat.

“Saya sudah sampaikan kepada panitia, kesepakatan itu mari dipatuhi agar kegiatan berjalan lancar, aman, nyaman dan tertib. Dengan begitu semua pihak bisa merasa puas,” lanjutnya.

Pawai Budaya Puja Seri 1 pun menjadi salah satu potret semarak perayaan HUT ke-81 RI di wilayah Gambiran. Ribuan warga tumplek blek di sepanjang jalur, sementara 22 peserta berusaha memberikan penampilan terbaiknya.

Di tengah dentuman sound horeg, warna-warni kostum dan hiruk-pikuk pedagang kaki lima, satu pesan tetap mengiringi kemeriahan: merayakan kemerdekaan boleh meriah, tetapi ketertiban, keamanan dan kenyamanan bersama tetap menjadi yang utama. (Rony//B5)

beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait