BANYUWANGI,Beritalima.com – Kemeriahan pawai budaya dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, ternyata tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat. Bagi para pedagang kaki lima dan pelaku UMKM, ramainya warga yang datang menjadi peluang untuk mendulang rezeki.
Sepanjang jalur pawai, sejumlah pedagang terlihat sibuk melayani pembeli. Aneka jajanan dan makanan ringan menjadi buruan warga yang datang menyaksikan parade budaya yang diiringi sound system berkekuatan besar atau sound horeg.
Salah satunya Solikin, pedagang cilok asal Bulusari, wilayah Kecamatan Gambiran. Ia mengaku setiap ada kegiatan pawai budaya yang ramai, dirinya berusaha hadir untuk berjualan.
Menurut Solikin, pawai budaya dengan iringan sound horeg menjadi salah satu momen yang cukup menguntungkan bagi pedagang. Ramainya penonton membuat dagangan yang dibawanya lebih cepat habis dibandingkan ketika berjualan di tempat biasa.
“Kalau ada acara pawai budaya sound horeg, saya selalu hadir untuk berdagang. Biasanya mesti laku, Mas. Kadang bisa dapat omzet sekitar Rp300 ribu sampai Rp500 ribu,” ujar Solikin.
Dari omzet tersebut, ia menyebut keuntungan bersih yang diperoleh kurang lebih separuhnya. Baginya, hasil tersebut cukup membantu, terlebih kegiatan pawai budaya tidak setiap hari digelar.
“Kalau omzet Rp300 ribu sampai Rp500 ribu, keuntungannya kira-kira separuhnya. Lumayan untuk tambahan penghasilan. Apalagi kalau acaranya ramai, pembeli datang terus,” katanya.
Solikin mengatakan, dirinya sudah memahami bahwa keramaian menjadi salah satu kunci bagi pedagang kecil seperti dirinya. Karena itu, ketika mengetahui ada pawai budaya, ia memilih datang dan membuka lapak.
“Kalau tidak ada acara seperti ini, saya biasanya mangkal sore di Balai Dusun Bulusari. Kadang laku banyak, kadang juga sepi. Namanya jualan, tergantung pembeli,” ungkapnya.
Namun ketika ada pawai budaya sound horeg, suasananya berbeda. Ribuan warga yang berkumpul membuat peluang pembeli jauh lebih besar.
“Kalau ada acara horeg begini mesti ramai pembeli, Mas. Lumayan, daripada mangkal biasa. Warga banyak yang datang, jadi dagangan ikut ramai,” tambahnya.
Kondisi tersebut juga dibenarkan salah seorang pengunjung, Yana. Ia mengatakan, menyaksikan pawai budaya bagi masyarakat bukan sekadar menikmati pertunjukan. Biasanya, warga juga menyiapkan uang saku untuk membeli makanan atau jajanan selama berada di lokasi.
“Kalau kita melihat pawai pasti bawa uang saku. Ya sekalian jajan apa saja yang ada. Seperti cilok ini, misalnya. Kalau melihat pedagang yang jualan, apalagi lapar, ya beli,” ujar Yana.
Menurutnya, keberadaan pedagang di sepanjang jalur pawai justru membuat suasana semakin meriah. Penonton memiliki banyak pilihan jajanan sambil menunggu rombongan peserta melintas.
“Jadi enak, sambil lihat pawai bisa jajan. Pedagang juga dapat rezeki,” imbuhnya.
Berkah keramaian juga dirasakan Yatno, pedagang kacang rebus. Dari raut wajahnya, terlihat jelas ia sumringah karena dagangannya laku keras.
Kacang rebus yang biasanya menjadi camilan sederhana ternyata cukup diminati penonton. Apalagi masyarakat yang berdiri berjam-jam di sepanjang jalur pawai membutuhkan camilan untuk menemani mereka menikmati hiburan.
Yatno pun terlihat beberapa kali sibuk melayani pembeli. Satu per satu dagangan berpindah tangan, sementara penonton terus berdatangan.
Bagi pedagang kecil, momentum seperti ini memang sangat berarti. Pawai budaya bukan hanya menghadirkan hiburan dan kreativitas masyarakat, tetapi juga membuka ruang ekonomi bagi warga.

Sound horeg boleh menjadi daya tarik pawai, namun bagi pedagang kaki lima, yang paling ditunggu adalah ramainya penonton—karena dari keramaian itulah rezeki ikut mengalir. (Rony//B5)







