Pawai Budaya Sumberberas Disebut Mirip BEC Banyuwangi, Kreativitas Warga Bikin Terpukau

  • Whatsapp
Foto; Beragam busana dengan desain unik, Karnaval budaya desa Sumberberas membikin penonton terpukau. (Doc, Rony Subhan)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Suasana perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, berlangsung meriah. Pawai budaya yang digelar warga tak hanya menyuguhkan semangat kemerdekaan, tetapi juga menghadirkan parade kostum dan penampilan artistik yang mencuri perhatian.

Beragam busana dengan desain unik, warna-warni serta sentuhan kreativitas warga membuat pawai tersebut terlihat berbeda. Peserta berjalan menyusuri rute pawai dengan penuh percaya diri, sementara masyarakat memadati sisi jalan untuk menyaksikan sekaligus mengabadikan penampilan mereka.

Bacaan Lainnya

Bagi Budi, salah seorang warga yang menyaksikan langsung pawai, kreativitas peserta membuat dirinya terpukau. Bahkan, ia menyebut suasana pawai budaya Sumberberas sekilas mengingatkan pada Banyuwangi Ethno Carnival (BEC).

“Bagus sekali. Sampai terpukau melihat kostumnya. Kalau dilihat sekilas seperti BEC Banyuwangi. Warga desa ternyata bisa membuat pawai yang begitu menarik dan meriah,” ujar Budi.

Sebagai informasi, BEC merupakan parade busana etnik yang memadukan kekayaan budaya lokal dengan kreativitas fashion carnival modern. BEC telah menjadi salah satu ikon budaya dan pariwisata Banyuwangi sejak pertama kali digelar pada 2011. Setiap tahunnya, tema BEC menggali kekayaan sejarah, tradisi, seni maupun potensi lokal Banyuwangi.

Pada BEC 2026 misalnya, tema “Perang Bayu – The Great War of Blambangan” divisualisasikan melalui kostum-kostum etnik kontemporer yang menggambarkan sejarah heroik perjuangan rakyat Blambangan melawan VOC pada 1771–1772. Parade tersebut juga memadukan unsur budaya lokal dengan tata busana dan kreativitas modern.

Hal inilah yang kemudian membuat pawai budaya Sumberberas mendapat perhatian. Meski digelar dalam skala desa dan merupakan bagian dari perayaan HUT RI, kreativitas warga mampu menghadirkan nuansa karnaval yang atraktif.

Pemerhati budaya sekaligus Ketua Perkumpulan Pendopo Semar Nusantara, Uny Saputra, menilai fenomena tersebut merupakan sesuatu yang positif. Menurutnya, ketika masyarakat desa mulai berani mengeksplorasi budaya melalui kreativitas visual, maka tradisi tidak hanya menjadi sesuatu yang disimpan, tetapi dapat dihidupkan dan dikenalkan melalui bentuk yang lebih menarik.

“Kalau masyarakat desa sudah mampu membuat sebuah pawai dengan kostum yang kreatif dan memiliki nilai artistik, menurut saya ini sesuatu yang luar biasa. BEC sendiri memberikan contoh bagaimana budaya lokal bisa dikemas menjadi pertunjukan yang modern tanpa harus kehilangan akar budayanya,” ujar Uny.

Menurut Uny, kemiripan yang terlihat bukan berarti pawai budaya Sumberberas meniru BEC. Justru, hal tersebut menunjukkan bahwa semangat mengemas budaya secara kreatif telah tumbuh di tengah masyarakat.

“Yang penting bukan meniru BEC-nya, tetapi semangat kreativitasnya. Bagaimana budaya, sejarah, kesenian dan identitas lokal bisa dikemas menjadi tontonan yang menarik. Desa juga memiliki potensi untuk melakukan itu,” jelasnya.

Ia berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai kemeriahan HUT RI semata. Menurutnya, jika dikembangkan secara konsisten, pawai budaya desa dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal budaya sekaligus menjadi wadah lahirnya kreativitas baru.

“Ini bisa menjadi ruang belajar bagi anak-anak muda. Mereka belajar membuat kostum, memahami karakter budaya, seni pertunjukan, sampai bagaimana menampilkan sebuah karya di depan masyarakat. Jadi bukan hanya hiburan, tetapi ada proses pelestarian budaya di dalamnya,” imbuh Uny.

Sementara itu, kemeriahan pawai budaya Sumberberas terus berlangsung. Sorak penonton, tepuk tangan dan kamera telepon seluler yang diarahkan kepada peserta menjadi gambaran antusiasme masyarakat.

Pawai tersebut akhirnya bukan sekadar perayaan HUT RI ke-81. Di balik kemeriahannya, terselip pesan bahwa kreativitas budaya tidak hanya lahir dari panggung besar, tetapi juga bisa tumbuh dari desa-desa.

Jika BEC telah membawa kekayaan budaya Banyuwangi ke panggung yang lebih luas, maka pawai budaya Sumberberas menunjukkan bahwa semangat menghidupkan budaya melalui kreativitas juga mulai tumbuh kuat dari tingkat akar rumput. (Rony//B5)

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait