Pegiat Lingkungan Terapkan Eco Enzyme di SKB Gudo Jombang
Jombang | beritalima.com – Sudah 10 tahun lebih pegiat lingkungan bernama Budi sekitar berusia 62 tahun, telah melaksanakan eco enzyme di beberapa tempat, kali ini bersama Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Gudo, wilayah pedesaan Blimbing, Kecamatan Gudo, tepatnya 30 km ke selatan dari pusat Kota Jombang, Jum’at (7/8/2026).
Dikatakan Budi didampingi Kepala SKB Gudo, Listyo Irawati dikerjakan untuk melestarikan lingkungan dengan mengumpulkan limbah organik menjadi bahan cairan yang bermanfaat untuk menetralisir sungai, antioksidan, untuk menyuburkan tanaman, bahkan bisa untuk mengepel lantai.
Bahan tersebut yang berasal dari limbah dapur keluarga dijelaskan Kepala SKB Gudo, bekerjasama dengan orang tua siswa agar limbah organik berupa limbah sayur mayur dan limbah buah supaya dibawah ke SKB untuk dijadikan eco enzyme.
Pembuatan eco enzyme ini dibantu dengan molase (limbah tetes tebu) untuk memfermentasikan limbah organik selama tiga bulan atau 90 hari. Perbandingannya adalah 1:3:10, yaitu 1 bagian gula merah/molase, 3 bagian sampah organik sisa buah/sayur segar, dan 10 bagian air.
“Bahan yang sudah dipotong kecil kecil dicampurkan dalam satu wadah plastik tertutup seperti bekas galon air mineral, diisi air maksimal 60% dari kapasitas wadah. Lalu ditutup tidak terlalu kencang dan dilonggarkan sedikit sekitar 20 – 30% ruang udara agar saat permentasi tidak terjadi penggelembungan,” tandas Listyo Irawati.
Saat fermentasi, kerap melakukan burping (buka tutup wadah) untuk membuang gas jika wadah terlihat menggelembung keras. Dan tidak boleh dicampur dengan sisa makanan yang berminyak dan berprotein tinggi.
Lebih lanjut dijelaskan Listyo Irawati, kendati SKB sebagai tempat belajar resmi dari Pemerintah untuk bantu masyarakat yang putus sekolah mengejar paket A, B, dan C. Namun SKB tersebut memiliki kegiatan ekstra kurikuler seperti bola voli, menari, dan karawitan.
“Kami juga menciptakan bank sampah anorganik/non organik disini dan nantinya diambil oleh dinas lingkungan hidup untuk didaur ulang seperti botol bekas, kardus, dan plastik,” jelasnya.
Untuk sementara fermentasi yang telah dibuat itu untuk menyuburkan tanaman dan mentralisir sungai dan tidak bisa diminum. Next event pungkas Listyo, nantinya akan membuat fermentasi yang bisa diminum sebagai probiotik.
“Kami memang membuka kelas untuk pembelajaran jarak jauh, tapi secara berkala sesuai kesepakatan siswa dan guru, tetap ada pertemuan pembelajaran. Jadi mereka tidak sama sekali datang ke SKB, namung tetap datang belajar tatap muka sesuai jadwal yang disepakati,” pungkas Listyo Irawati.
Jurnalis: dedy








