Pejuang Receh” Pendukung APBD Kisah FORKETAS Sumsel Mempertahankan UMKM Di Tengah Badai Ekonomi

  • Whatsapp

PALEMBANG, BeritaLima.Com | Di tengah dinamika perubahan pola konsumsi masyarakat dan tantangan ekonomi global, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Sumatera Selatan terus berupaya bertahan dan berinovasi.

Forum Komunikasi Ketua Komunitas UMKM (FORKETAS) Sumatera Selatan, yang berdiri sejak 3 Maret 2023, menjadi wadah strategis bagi sekitar 28 asosiasi UMKM dengan lebih dari 2.200 anggota aktif terdata.

Prof. Dr. Sri Rahayu, S.E., M.M., Ketua Umum FORKETAS Sumsel, menekankan bahwa UMKM bukan sekadar “pejuang receh”, melainkan tulang punggung penggerak ekonomi daerah dan pendukung Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Melalui berbagai kegiatan kuliner, ekonomi kreatif, hingga pariwisata, FORKETAS telah membangun jaringan yang kini bahkan dilirik oleh perusahaan nasional dari Jakarta untuk kolaborasi kegiatan.

Tantangan Libur Panjang dan Pergeseran Mobilitas
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pelaku UMKM saat ini adalah fluktuasi omzet akibat perubahan mobilitas masyarakat, khususnya pada masa libur panjang. Sri Rahayu mengungkapkan adanya penurunan signifikan pada pendapatan pedagang di pusat keramaian.

“Awal pembukaan, omzet bisa mencapai Rp5 juta dalam satu malam. Namun kini, banyak yang hanya mendapatkan Rp400 ribu, meskipun ada yang masih bertahan di angka Rp2 juta,” ujarnya.

Ia menyayangkan kecenderungan masyarakat Sumatera Selatan yang memilih berwisata ke luar daerah, seperti Provinsi Lampung untuk menikmati wisata pantai, saat libur panjang. Hal ini menyebabkan sepi nya aktivitas ekonomi di Palembang. Sri Rahayu berharap Dinas Pariwisata dan pemangku kepentingan lainnya dapat menciptakan daya tarik wisata kuliner dan budaya yang kuat agar wisatawan tetap berputar di dalam daerah, sehingga menggerakkan roda ekonomi lokal.

Tren Konsumsi Baru: Kafe sebagai Ruang Kerja dan Sosialisasi
Di sektor kuliner, terjadi pergeseran tren yang signifikan. Selain makanan khas seperti pempek yang tetap memiliki pasar kuat, konsep tempat nongkrong (hangout) semakin diminati generasi muda. Masyarakat kini tidak hanya mencari makanan, tetapi juga ruang yang nyaman untuk bersosialisasi, bekerja, atau mengerjakan tugas.

“Yang dicari anak muda sekarang adalah tempat yang nyaman, ada Wi-Fi gratis, dan tidak diusir meski hanya memesan satu gelas teh atau kopi berjam-jam,” jelas Sri Rahayu. Ia melihat ini sebagai peluang besar bagi pengelola kafe untuk menawarkan fleksibilitas dan kenyamanan tanpa menekan konsumen untuk terus melakukan pemesanan tambahan.

Profesionalisasi UMKM: Syarat Mutlak Legalitas dan Standar Operasional
FORKETAS mendorong pelaku usaha untuk beralih dari sekadar berjualan menjadi membangun bisnis yang profesional. Salah satu syarat utama bergabung dengan komunitas di bawah naungan FORKETAS adalah kepemilikan dasar hukum usaha, minimal Akta Pendirian Perusahaan (AHU).

“Saya sering bilang, silakan jual cireng, tapi buatlah cireng dengan standar operasional prosedur (SOP) yang jelas. Bagaimana suhu minyaknya, komposisi adonannya, hingga konsistensi rasanya. Dengan standar yang baik, produk tidak hanya laku di lokal, tapi bisa tembus pasar nasional,” tegasnya.

Selain legalitas, pencatatan keuangan yang rapi dan laporan laba rugi yang transparan menjadi kunci bagi UMKM untuk berkembang dan mengakses pasar yang lebih luas, termasuk penjualan daring.

Peluang Sektor Fashion dan Pakaian Adat
Momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI memberikan angin segar bagi UMKM sektor fashion, khususnya penyewaan dan penjualan pakaian adat. Imbauan penggunaan busana daerah dalam berbagai acara resmi telah meningkatkan permintaan terhadap produk tersebut. Sri Rahayu mencatat bahwa masyarakat kini lebih terbuka untuk membeli atau menyewa pakaian adat sebagai bentuk dukungan terhadap kebudayaan sekaligus kebutuhan gaya hidup.

Edukasi Perpajakan dan Regenerasi.

Kepemimpinan
Sri Rahayu juga mengajak pelaku UMKM untuk tidak alergi terhadap pajak. Ia menjelaskan bahwa pajak merupakan sumber pembiayaan infrastruktur, seperti jalan raya. Jika infrastruktur rusak, biaya logistik naik, yang akhirnya bermuara pada kenaikan harga jual dan penurunan daya beli masyarakat.

“Pajak itu kembali kepada kita dalam bentuk fasilitas umum. Selama pemungutannya amanah, kita harus berpikir positif dan patuh,” imbuhnya.

Menutup pernyataannya, Sri Rahayu menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan dan edukasi berkelanjutan. Ia berharap akan muncul pemimpin baru di FORKETAS yang adil dan peduli, serta terus membekali UMKM dengan pengetahuan, legalitas, dan kualitas produk agar mampu bersaing di tingkat nasional.

“Pengetahuan dan prestasi sangat penting. Jangan puas hanya dengan pasar lokal, bangun kapasitas untuk go national,” pungkasnya. ( Nn)

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait