Sleman, beritalima.com| – Pelestarian cagar budaya di sejumlah kota Indonesia harus berdampak pada sektor Pendidikan dan ekonomi daerah. Hal ini disoroti oleh Panja Pemanfaatan Cagar Budaya Komisi X DPR RI yang menemukan adanya ketidaksinkronan kepentingan antar-sektor dalam pengelolaan aset warisan budaya nasional.
Tantangan besar pada hal ini adalah dalam menyeimbangkan antara tingginya permintaan akses publik untuk edukasi dan ekonomi dengan kewajiban menjaga daya tampung cagar budaya demi kelestarian jangka panjang. Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana mengatakan masyarakat dan pelajar sangat membutuhkan akses yang terjangkau.
”Pelajar ingin mendapatkan akses dalam arti kalau bisa tiketnya jangan dikasih mahal karena mereka mau belajar. Tapi di sisi lain, ada kepentingan kita untuk menjaga kelestarian. Kalau membeludak juga kan enggak bagus, karena cagar budaya ini punya daya tampungnya sendiri yang harus diperhitungkan,” ujar Bonnie saat Kunjungan Kerja Tim Panja Pelindungan dan Pemanfaatan Cagar Budaya Komisi X DPR RI di Komplek Candi Prambanan, Sleman, Yogyakarta (22/5)
Komisi X berkomitmen merumuskan rekomendasi kebijakan yang komprehensif bagi kementerian terkait, seperti Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Dalam Negeri. Tujuannya agar situs sejarah tidak sekadar dirawat, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pendidikan dan ekonomi lokal.
Bonnie menekankan, status cagar budaya sejatinya adalah milik kolektif masyarakat, bukan semata-mata milik pemerintah atau negara. “Kami juga mendorong partisipasi aktif dari masyarakat ini juga harus disertai dengan kesadaran pentingnya menjaga jadi heritage itu. Bukan punya pemerintah, bukan punya negara. Dia punya negara punya masyarakat dan memang tumbuh atau terciptanya cagar budaya itu datang dari masyarakat,” jelas politisi PDI-Perjuangan itu.
Kepada pengelola situs candi, seperti PT Taman Wisata Candi, Bonnie menegaskan meskipun ada mengejar keuntungan, tapi mesti tetap mengemban misi sosial dan moral untuk menjaga cagar budaya ini teus bisa dinikmati dalam jangka panjang.
Jurnalis: abri/rendy








