Pengamat Politik Suko Widodo Prediksi Senator Muda Lia Istifhama Menjadi Idola Baru Milenial dan GenZi

  • Whatsapp

SURABAYA, beritalima.com | Meskipun kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) akan digelar pada tahun 2029, namun maraknya pemberitaan terkait siapa tokoh yang pantas menggantikan posisi Khofifah Indar Parawansa mulai bergulir. Bahkan ARCI sudah melakukan survey dengan hasil yang mencengangkan.

Menanggapi perihal tersebut, tokoh komunikasi politik dan praktisi sekaligus dosen FISIP Unair Dr Suko Widodo Drs, MSi memberikan paparan.

“Hasil survei ARCI menunjukkan bahwa Emil Dardak masih menjadi figur dengan posisi terkuat di kalangan pemilih muda Jawa Timur. Namun, angka elektabilitas 32,1 persen juga mengindikasikan bahwa mayoritas responden belum menjatuhkan pilihan kepada Emil. Artinya, meskipun ia memimpin cukup jauh, ruang kompetisi menuju Pilgub Jawa Timur 2029 masih sangat terbuka,” jelas Suko Widodo.

Temuan yang paling menarik justru munculnya Lia Istifhama di posisi kedua dengan 17,5 persen. Capaian ini memperlihatkan bahwa figur di luar kepala daerah aktif pun memiliki peluang membangun elektabilitas apabila mampu menjalin komunikasi yang efektif dengan generasi muda.

“Ini menjadi sinyal bahwa preferensi pemilih muda tidak semata-mata ditentukan oleh jabatan formal, tetapi juga oleh intensitas interaksi, rekam jejak, dan kedekatan dengan isu-isu yang mereka anggap relevan,” terangnya.

Di sisi lain, elektabilitas Eri Cahyadi yang berada di angka 10,3 persen menunjukkan bahwa popularitas di tingkat kota belum otomatis bertransformasi menjadi dukungan di tingkat provinsi.

Kondisi serupa juga terlihat pada sejumlah kepala daerah lain yang masih berada dalam kelompok papan tengah dengan selisih elektabilitas yang relatif tipis.

Suko Widodo menuturkan, meski demikian, hasil survei ini perlu dibaca secara proporsional. Pertama, survei hanya memotret preferensi pemilih berusia 17–40 tahun, sehingga tidak dapat digeneralisasikan untuk seluruh pemilih Jawa Timur.

Kedua, survei dilakukan sekitar tiga tahun sebelum Pilgub 2029, sehingga dinamika politik, koalisi partai, kinerja para tokoh, maupun munculnya figur baru masih sangat mungkin mengubah peta elektabilitas.

Ketiga, beberapa perbedaan di kelompok menengah berada dalam rentang margin of error ±2,8 persen sehingga belum dapat dianggap sebagai perbedaan yang signifikan secara statistik.

“Secara keseluruhan, survei ini lebih tepat dibaca sebagai gambaran awal mengenai arah preferensi generasi muda Jawa Timur. Bagi para kandidat, temuan tersebut menunjukkan bahwa membangun komunikasi yang konsisten, menghadirkan program yang relevan bagi anak muda, dan menjaga kedekatan dengan publik akan menjadi faktor penting dalam membentuk elektabilitas menjelang kontestasi 2029,” pungkasnya.(Yul)

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait