Jakarta, beritalima.com| – Kementerian Kesehatan kembali mengirimkan 160 Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) untuk batch 2 mendukung pemulihan kesehatan masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Sumarjaya mengatakan, penugasan TCK kali ini untuk memperkuat layanan psikososial dan kesehatan mental masyarakat di wilayah terdampak (7/9), ditempatkan di empat kabupaten, yakni Kabupaten Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.
“Pendekatannya agak berbeda karena ini lebih kepada psikososial, bagaimana kita memberangkatkan tenaga-tenaga yang memberikan kesehatan mental bagi masyarakat di daerah Flores,” ujar Sumarjaya, Senin (7/9).
Pengiriman TCK Batch 2 merupakan kelanjutan dari dukungan Kemenkes pada tahap pertama. Sebelumnya, sebanyak 206 tenaga kesehatan telah diberangkatkan untuk membantu pelayanan kesehatan masyarakat terdampak gempa di NTT.
Pada penugasan tahap kedua, tenaga kesehatan akan memberikan pelayanan di fasilitas kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit lapangan. Saat ini terdapat dua rumah sakit lapangan yang turut mendukung pelayanan kesehatan masyarakat terdampak, yaitu di Ruteng dan Ngada.
Selain penanganan medis, TCK juga memberikan dukungan psikososial, khususnya kepada anak-anak dan masyarakat yang mengalami trauma akibat bencana. Sumarjaya menyebut, dampak bencana tak hanya menimbulkan persoalan kesehatan fisik, seperti patah tulang dan luka, tapi juga memengaruhi kondisi psikologis masyarakat akibat kehilangan harta benda maupun trauma menghadapi bencana.
“Untuk saat ini, itu adalah lebih kepada psikososial, bagaimana memberikan edukasi, komunikasi kepada masyarakat terdampak,” ujar Sumarjaya. Dokter umum TCK dr. Shaldy Syifa Azzahri menambahkan, “sebagai seorang dokter, kita menyiapkan beberapa alat-alat dan juga bahan yang bisa kita bantu untuk memperbaiki dan juga memulihkan kesehatan masyarakat. Dan pastinya juga sebagai seorang dokter umum, kita juga pastinya bisa mempersiapkan mentalitas kita sendiri dan juga kesehatan kita sendiri sebelum kita membantu orang lain.”
Ditekankan Shaldy, “ini bukan lagi hanya memperbaiki kesehatan dari fisiknya saja, tapi juga kita harus membantu untuk memulihkan kesehatan psikologisnya juga. Jadi di sini kita membantu sama-sama untuk bisa menjadi bagian dari proses pemulihan mereka.”
Penugasan TCK mengikuti standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dengan masa tugas selama 14 hari sebelum dilakukan pergantian personel. Penempatannya menyesuaikan dengan masa tanggap darurat yang ditetapkan Pemerintah Provinsi NTT hingga 12 September 2026 dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan di lapangan.
Jurnalis: rendy/abri








