BANYUWANGI,Beritalima.com – Gemuruh sound horeg belum dimulai, tetapi geliat ekonomi warga Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, sudah terasa sejak sehari sebelum kirab budaya digelar.
Sejumlah pedagang kaki lima mulai sibuk mempersiapkan tempat jualan. Salah satunya Purnomo. Ia terlihat mulai memasang gerobak sekaligus mendirikan tenda sebagai atap dagangannya.
Gerobaknya diposisikan di lokasi yang dianggap strategis, sementara tenda dipasang untuk melindungi dagangan sekaligus dirinya dari terik matahari maupun kemungkinan hujan saat ribuan warga mulai berdatangan.
Purnomo mengaku setiap ada acara kirab budaya dan sound horeg, dirinya selalu ikut datang menjajakan dagangan. Baginya, keramaian seperti ini bukan hanya hiburan, tetapi juga kesempatan untuk menambah penghasilan.
“Kalau ada kirab budaya seperti ini saya selalu ikut jualan. Biasanya ramai, jadi lumayan untuk menambah pendapatan. Makanya dari sekarang saya sudah siap-siap, pas acara tinggal jualan,” ujarnya.
Ia berharap ramainya penonton membuat dagangannya laris. Sebab, semakin banyak warga yang datang, semakin besar pula peluang pedagang mendapatkan pembeli.
Tak hanya pedagang yang sudah lama berjualan, momentum kirab budaya juga memancing munculnya pedagang dadakan. Mereka ikut turun ke jalan untuk mencoba peruntungan dan menambah pemasukan keluarga.
Riani salah satunya. Ia melihat keramaian kirab sebagai peluang yang sayang jika dilewatkan. Meski hanya berjualan saat ada acara tertentu, hasilnya cukup berarti untuk menambah pendapatan.
“Kalau ada acara ramai seperti ini ya kita coba ikut jualan. Tidak setiap hari, tapi kalau ada kesempatan seperti ini lumayan. Yang penting ada usaha, mudah-mudahan dagangan larisn mas,” ungkap Riani.
Fenomena tersebut membuat suasana menjelang kirab budaya semakin semarak. Ketika 26 barisan sound horeg nantinya menyusuri rute sekitar empat kilometer melewati Dusun Pancursari, Rejosari dan Kemlosom, di sepanjang jalan juga bakal bermunculan lapak-lapak warga.
Bagi penonton, kirab menjadi hiburan. Bagi para pedagang, kerumunan warga adalah peluang rezeki.
Purnomo dan pedagang lainnya kini tinggal menunggu esok hari. Gerobak sudah berdiri, tenda mulai terpasang, dagangan siap dijajakan. Tinggal menunggu satu hal: ribuan penonton datang dan dagangan laris manis. (Rony//B5)








