SURABAYA, beritalima.com | Kepala BPJS Kesehatan Cabang Surabaya, Muhammad Aras, mengatakan, cukup banyak peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Kota Surabaya yang status kepesertaannya tidak aktif.
“Sampai Juni 2026 jumlah peserta Program JKN di Kota Surabaya telah mencapai 2,97 juta jiwa atau 98,94 persen dari total penduduk. Namun, untuk kepesertaan aktif baru mencapai sekitar 83,5 persen atau sekitar 2,5 juta peserta,” jelas Aras pada wartawan, Selasa (21/7/2026).
“Ini menjadi perhatian kami untuk terus melakukan edukasi dan mendorong peserta kembali aktif,” lanjut mantan Kepala BPJS Kesehatan Cabang Makassar ini.
Aras juga menyampaikan, iuran kepesertaan Program JKN penduduk Kota Surabaya pada 2025 tercatat sekitar Rp3,4 triliun, sedangkan biaya pelayanan kesehatan mencapai Rp5,38 triliun, sehingga rasio klaim mencapai sekitar 158 persen.
Kemudian hingga pertengahan 2026, pendapatan iuran kepesertaan di Surabaya sekitar Rp1,23 triliun, sedangkan biaya pelayanan kesehatan telah mencapai sekitar Rp2,22 triliun.
Aras mengatakan, meski menghadapi tantangan pembiayaan, BPJS Kesehatan tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh peserta JKN.
Di tempat yang sama, Ketua BPJS Watch Jawa Timur, Arief Supriyono, mengatakan, keberlanjutan Program JKN perlu mendapat perhatian serius pemerintah.
Menurut Arief, berdasarkan proyeksi Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), bila tidak ada langkah strategis, BPJS Kesehatan berpotensi kembali mengalami tekanan defisit mulai tahun 2027.
Dia mendorong pemerintah segera merealisasikan dukungan anggaran sebesar Rp20 triliun yang pernah diwacanakan. Anggaran tersebut sebaiknya tidak hanya digunakan untuk pemutihan tunggakan peserta, tetapi juga dikonversi menjadi tambahan pembiayaan iuran agar mampu menjaga keberlanjutan Program JKN. (Gan)
Teks Foto: Kepala BPJS Kesehatan Cabang Surabaya, Muhammad Aras.








