Petrokimia Gresik Dorong Generasi Z Tekuni Pertanian Modern, Produktivitas Bawang Merah Naik Lima Kali Lipat

  • Whatsapp

GRESIK, beritalima.com– PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), terus mendorong regenerasi petani melalui penerapan pertanian modern berbasis teknologi.

Upaya tersebut diwujudkan melalui program School Lab Farming yang melibatkan 261 siswa dari tiga SMK pertanian di Jawa Timur. Program ini mengajak siswa menerapkan konsep pertanian presisi sekaligus mengelola lahan sekolah sebagai ruang belajar, produksi, hingga pengembangan bisnis pertanian.

Program yang dijalankan Petrokimia Gresik tersebut menunjukkan hasil positif. Salah satunya terlihat di SMK Negeri 1 Kademangan, Blitar. Dari lahan seluas 1.000 meter persegi, para siswa berhasil memanen 800 kilogram bawang merah kering.

Produktivitas tersebut meningkat lebih dari lima kali lipat dibandingkan musim tanam sebelumnya yang hanya menghasilkan sekitar 150 kilogram dari luasan lahan yang sama.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob menyampaikan bahwa regenerasi petani menjadi tantangan bersama dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian nasional. Melalui School Lab Farming, Petrokimia Gresik ingin menghadirkan pengalaman bertani yang lebih dekat dengan karakter generasi muda, yaitu berbasis teknologi, data, produktivitas, dan peluang usaha.

“Melalui School Lab Farming, kami ingin menunjukkan kepada generasi muda bahwa pertanian saat ini sudah berkembang jauh. Dengan dukungan teknologi smart farming dan pengelolaan lahan sekolah sebagai teaching factory yang produktif, siswa tidak hanya belajar bercocok tanam, tetapi juga memahami bagaimana pertanian dapat dikelola secara modern dan memiliki prospek usaha yang menjanjikan,” ujar Daconi di Gresik, Jawa Timur.

Selain bawang merah, siswa SMK Negeri 1 Kademangan juga berhasil membudidayakan ratusan melon di dalam greenhouse. Melon yang dihasilkan memiliki tingkat kemanisan mencapai 15 °Brix.

Hasil serupa juga diperoleh SMK Negeri 8 Jember dan SMK Muhammadiyah 5 Gresik. Kedua sekolah tersebut membudidayakan varietas melon berbeda dengan bobot antara 1,2 hingga 2 kilogram dan tingkat kemanisan minimal 15 °Brix.

Menurut Daconi, capaian tersebut menunjukkan bahwa pertanian dapat semakin menarik bagi Generasi Z ketika dikelola dengan teknologi dan metode budidaya yang tepat. Siswa dapat melihat secara langsung hubungan antara penggunaan teknologi, proses produksi, kualitas hasil panen, hingga nilai ekonomi yang diperoleh.

“Ketika siswa melihat sendiri bahwa lahan yang mereka kelola mampu menghasilkan produk berkualitas dan memiliki nilai jual, mereka mendapatkan perspektif baru tentang pertanian. Bukan hanya sebagai aktivitas budidaya, tetapi sebagai bidang usaha yang membutuhkan teknologi, kemampuan analisis, dan pengelolaan bisnis,” tandasnya.

Dalam penerapan pertanian presisi, siswa dibiasakan bekerja berdasarkan data. Mereka mencatat perkembangan tanaman, kondisi media tanam, kebutuhan dan dosis pemupukan, hingga hasil produksi melalui matriks yang terstandar.

Melalui proses tersebut, siswa tidak hanya belajar mengenai teknik budidaya, tetapi juga dilatih menganalisis kondisi tanaman dan mengambil keputusan berdasarkan data.

Selain bawang merah dan melon, ketiga sekolah juga mengembangkan komoditas pendukung seperti buncis dan kembang kol sebagai bagian dari rotasi tanam. Diversifikasi komoditas ini sekaligus memperluas pengalaman siswa dalam mengelola berbagai jenis usaha pertanian.

School Lab Farming Petrokimia Gresik

School Lab Farming merupakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Petrokimia Gresik yang dijalankan dengan kerangka Creating Shared Value (CSV).

Program tersebut tidak hanya memberikan dukungan sarana pertanian, tetapi juga mendorong optimalisasi aset sekolah agar dapat dimanfaatkan sebagai ruang praktik sekaligus unit produksi.

School Lab Farming merupakan tindak lanjut dari kompetisi HARVESTION 2025 yang sebelumnya mempertemukan 33 SMK pertanian dari 15 kabupaten/kota di Jawa Timur.

Dari kegiatan tersebut, Petrokimia Gresik melihat bahwa minat generasi muda terhadap sektor pertanian sebenarnya cukup besar. Namun, minat tersebut belum seluruhnya berkembang menjadi ketertarikan untuk menekuni budidaya maupun menjadikan pertanian sebagai pilihan profesi dan usaha.

Di sisi lain, sejumlah sekolah masih menghadapi keterbatasan sarana praktik dan akses terhadap teknologi pertanian modern. Kondisi tersebut juga diperkuat dengan adanya kesenjangan antara pembelajaran di kelas dengan kebutuhan dunia industri.

Padahal, banyak sekolah memiliki lahan yang cukup luas dan produktif untuk dikembangkan sebagai laboratorium praktik sekaligus unit produksi.

“School Lab Farming membuat proses belajar tidak berhenti pada demonstrasi di lahan. Siswa menjadi pelaku utama dalam seluruh siklus pertanian, mulai dari perencanaan budidaya, pengelolaan tanaman, pencatatan data, panen, hingga memahami nilai ekonomi dari produk yang mereka hasilkan,” ujar Daconi.

Kepala SMK Negeri 1 Kademangan, Hadi Sucipto mengapresiasi program School Lab Farming karena memberikan pengalaman baru bagi siswa dalam mengenal pertanian berbasis teknologi.

Menurutnya, pendekatan pertanian modern dapat meningkatkan ketertarikan generasi muda karena siswa tidak hanya mempelajari teknik budidaya, tetapi juga memahami teknologi dan peluang usaha di sektor pertanian.

“Kami sangat mengapresiasi program ini karena siswa mendapatkan kesempatan untuk belajar dan mempraktikkan langsung pertanian modern. Harapannya, pengalaman ini dapat menumbuhkan semakin banyak generasi muda yang tertarik mengembangkan sektor pertanian sekaligus turut mendukung terwujudnya pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional,” tutupnya.(Ron)

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait