Foto: Perwakilan masyarakat dari delapan kelurahan/desa penerima menunjukkan paket bantuan peternakan sirkular Lestari Bumi yang mendukung pengembangan ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi masyarakat.
GRESIK, beritalima.com— PT Petrokimia Gresik terus memperkuat pemberdayaan masyarakat di sekitar perusahaan melalui program Gerakan Masyarakat Budidaya Ayam dan Ikan Lele Asri (GEMBALA) Lestari Bumi. Program tersebut dikembangkan di delapan kelurahan/desa sebagai upaya mendorong ketahanan pangan sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi masyarakat.
Implementasi program GEMBALA Lestari Bumi ditandai dengan penyerahan bantuan secara simbolis di Kelurahan Kroman beberapa waktu lalu. Program ini mengusung konsep ekonomi sirkular dengan mengintegrasikan berbagai kegiatan budidaya dan pengelolaan limbah dalam satu ekosistem.
Sekretaris Perusahaan Petrokimia Gresik, Nuril Huda, mengatakan seluruh bantuan program GEMBALA telah didistribusikan kepada delapan kelurahan/desa penerima.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya berfokus pada penyediaan sarana budidaya, tetapi juga membangun ekosistem yang memungkinkan masyarakat memanfaatkan sumber daya secara berkelanjutan.
“Program GEMBALA kami rancang bukan sekadar memberikan sarana budidaya, tetapi membangun ekosistem yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan pangan sekaligus membuka potensi pendapatan,” ujar Nuril.
Dukungan Petrokimia Gresik untuk program GEMBALA secara keseluruhan mencapai sekitar Rp102 juta. Bantuan tersebut mencakup kandang ayam petelur, kandang maggot, kolam ikan dan hidroponik, biopori, planter bag untuk budidaya cabai dan tomat, serta dukungan operasional sebesar Rp2,5 juta untuk masing-masing kelurahan/desa penerima.
Selain bantuan sarana, para pengelola GEMBALA juga memperoleh pelatihan, mentoring, dan pendampingan untuk meningkatkan kemampuan dalam menjalankan serta mengembangkan program secara mandiri.
Budidaya Ayam Petelur Jadi Penggerak Awal
Pada tahap awal, setiap pengelola mendapatkan 12 ekor ayam petelur. Jumlah tersebut berpeluang ditingkatkan menjadi 24 ekor berdasarkan hasil penilaian terhadap perkembangan masing-masing lokasi.
Dengan 12 ekor ayam petelur, produksi telur diperkirakan mencapai sekitar 220–290 butir per tahun. Dari kegiatan tersebut terdapat potensi tambahan pendapatan sekitar Rp489 ribu hingga Rp1 juta per bulan, bergantung pada produktivitas dan pengelolaan di masing-masing lokasi.
“Pemberdayaan dapat dimulai dari skala sederhana. Yang terpenting adalah masyarakat memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengelola serta mengembangkan kegiatan tersebut secara mandiri,” jelas Nuril.
Konsep ekonomi sirkular menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan GEMBALA. Pengelolaan sekitar 50 kilogram limbah organik per bulan dilakukan dengan bantuan Petro Gladiator, yang kemudian diintegrasikan dengan pengembangan maggot.
Sekitar 500 gram maggot dikembangkan dan dimanfaatkan dalam ekosistem budidaya. Selanjutnya, kegiatan tersebut dihubungkan dengan budidaya ayam petelur, ikan lele, dan tanaman sehingga sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan kembali secara lebih efisien.
GEMBALA Berpotensi Jadi Sarana Edukasi
Tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan pangan dan mendukung ekonomi masyarakat, sejumlah lokasi GEMBALA Lestari Bumi ke depan juga direncanakan berkembang menjadi sarana edukasi bagi anak-anak TK dan SD.
Melalui fungsi tersebut, anak-anak dapat diperkenalkan sejak dini pada praktik budidaya, pengelolaan lingkungan, pemanfaatan limbah organik, serta konsep ekonomi sirkular.
Pengembangan lokasi sebagai sarana edukasi juga berpotensi memberikan nilai tambah bagi masyarakat melalui kegiatan kunjungan maupun study tour.
Petrokimia Gresik akan terus memberikan pendampingan agar program GEMBALA dapat berkembang sesuai potensi masing-masing wilayah. Pendampingan tersebut diharapkan mampu menjaga keberlanjutan program sekaligus memperbesar manfaat bagi masyarakat sekitar perusahaan.
“GEMBALA kami harapkan dapat menjadi contoh bahwa pemberdayaan masyarakat bisa berjalan beriringan dengan prinsip ekonomi sirkular. Dari limbah kita olah, dari lahan yang tersedia kita hasilkan pangan, dan dari proses tersebut kita ciptakan peluang ekonomi. Pada akhirnya, masyarakat diharapkan semakin mandiri dan mampu mengembangkan manfaat program secara berkelanjutan,” pungkas Nuril.(Ron)








