BANYUWANGI,Beritalima.com – Suasana gelaran Kaliploso Horti Carnival (KHC) di Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, semakin dramatis saat rangkaian acara memasuki penghujung kegiatan.
Jika sejak awal masyarakat disuguhi berbagai pertunjukan seni, budaya dan kreativitas, kali ini langit Kaliploso menjadi panggung terakhir. Ratusan lampion dilepaskan secara bersamaan, menerangi langit malam dan menciptakan pemandangan yang memukau.
Satu per satu lampion dinyalakan dan kemudian dilepaskan ke udara. Cahaya berwarna-warni perlahan bergerak naik, semakin tinggi meninggalkan kerumunan warga.
Dalam hitungan detik, langit di atas lokasi KHC dipenuhi titik-titik cahaya. Dari kejauhan, ratusan lampion tersebut tampak seperti kunang-kunang warna-warni yang beterbangan di langit malam.
Warga pun spontan mengarahkan kamera telepon genggam mereka ke atas. Sebagian mengabadikan momen tersebut, sementara lainnya memilih menikmati pemandangan langit yang berubah menjadi lautan cahaya.
Pelepasan lampion menjadi penutup yang seolah menyempurnakan seluruh rangkaian KHC. Setelah sebelumnya masyarakat merayakan budaya dan potensi hortikultura melalui berbagai pertunjukan, malam itu mereka bersama-sama menatap cahaya yang perlahan terbang menuju langit.
Salah seorang warga, Edy Setiawan, mengaku terkesan dengan konsep tersebut.
“Ini keren sekali. Ratusan lampion naik bersamaan, dari bawah kelihatan seperti kunang-kunang di langit,” ujar Edy.
Menurutnya, pelepasan lampion membuat suasana KHC terasa semakin berkesan. Tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menghadirkan momen yang bisa dikenang masyarakat.
“Rasanya seperti pesta lampion. Semua warga bisa menikmati, anak-anak juga senang. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus ada dan setiap tahun dibuat semakin menarik,” imbuhnya.

Bukan Sekedar Cahaya, Ada Pesan di Balik Lampion
Salah satu panitia KHC, Angga, menjelaskan bahwa pelepasan lampion sengaja ditempatkan sebagai salah satu bagian akhir acara.
Menurutnya, lampion dipilih bukan hanya karena memiliki daya tarik visual, tetapi juga membawa simbol dan pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
“Lampion ini kita jadikan simbol harapan. Setelah seluruh rangkaian KHC kita lalui bersama, kita ingin menutupnya dengan satu simbol bahwa harapan dan cita-cita masyarakat Kaliploso juga kita lepaskan bersama menuju masa depan yang lebih baik,” jelas Angga.
Ia mengatakan, setiap cahaya lampion dapat dimaknai sebagai doa dan harapan. Ada harapan agar masyarakat semakin sejahtera, pertanian semakin maju, UMKM berkembang, kebudayaan tetap lestari dan generasi muda semakin mencintai desanya.
Selain itu, pelepasan ratusan lampion juga menggambarkan semangat kebersamaan masyarakat.
“Yang kita tekankan adalah kebersamaannya. Lampionnya banyak, cahayanya berbeda-beda, tetapi ketika berada di langit semuanya menjadi satu pemandangan yang indah. Itu seperti masyarakat kita, berbeda-beda tetapi bisa bersatu membangun desa,” ujar Angga.
Menurutnya, konsep tersebut juga menjadi bagian dari upaya membuat KHC memiliki ciri khas tersendiri. Setiap unsur dalam acara diharapkan memiliki cerita dan makna, bukan hanya dibuat untuk meramaikan suasana.
Angga berharap pelepasan lampion dapat menjadi salah satu momen yang terus diingat masyarakat setiap kali KHC digelar.

Langit Kaliploso Jadi Kanvas Cahaya
Malam itu, langit Kaliploso seakan berubah menjadi kanvas raksasa. Ratusan titik cahaya bergerak perlahan, semakin tinggi dan semakin kecil hingga akhirnya menghilang di kejauhan.
Di bawahnya, warga masih berdiri menikmati pemandangan. Ada yang tersenyum, ada yang mengabadikan dengan kamera, dan ada pula yang hanya terdiam menyaksikan cahaya warna-warni tersebut.
Setelah tiga hari penuh dengan seni, budaya, hortikultura, UMKM dan kebersamaan warga, KHC Kaliploso ditutup dengan pesta cahaya yang sarat simbol.
Lampion-lampion itu seolah membawa satu pesan sederhana dari Kaliploso: ketika harapan diterbangkan bersama, cahaya kecil pun bisa menerangi langit yang luas. (Rony//B5)







