BANYUWANGI,Beritalima.com – Peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di RW 04, Dusun Krajan, Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, tidak hanya diisi dengan tasyakuran dan makan bersama. Refleksi kemerdekaan justru menjadi salah satu pembahasan utama yang menyita perhatian warga.
Tokoh masyarakat Drs. Sapto Suselo tampil menyampaikan refleksi bertajuk “Menuju Indonesia Lebih Baik”. Di hadapan warga, ia mengajak masyarakat tidak sekedar mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga bertanya kepada diri sendiri: apa yang sudah dilakukan untuk membuat lingkungan, desa dan bangsa menjadi lebih baik.
Sapto mengawali refleksinya dengan mengutip Pancasila, khususnya sila ketiga, Persatuan Indonesia. Menurutnya, semangat persatuan tersebut sebenarnya sudah terlihat dalam kehidupan warga RW 04 yang selama ini mampu menjaga kerukunan, guyub dan bergotong royong.
“Kalau warga bisa rukun, guyub dan bergotong royong, itu sudah menunjukkan sebuah kehidupan yang lebih baik. Dari lingkungan yang baik, kita bisa membangun masyarakat yang lebih baik,” kata Sapto.
Menurutnya, menuju Indonesia yang lebih baik tidak cukup hanya berbicara mengenai pembangunan fisik. Kualitas sumber daya manusia (SDM) juga menjadi bagian penting yang harus mendapatkan perhatian.
Masyarakat, kata Sapto, harus terus didorong agar memiliki pengetahuan, kepedulian dan kesadaran untuk hidup berdampingan dengan saling menghormati.
Bukan Hanya Jalan, SDM Juga Harus Dibangun
Sapto kemudian menyinggung pembangunan fisik di lingkungan RW 04. Ia mencontohkan kondisi jalan aspal di Dusun Krajan yang masih mengalami kerusakan sepanjang kurang lebih 200 meter dan belum tuntas diperbaiki.
Menurutnya, pembangunan seperti jalan merupakan bagian dari upaya menuju kehidupan yang lebih baik. Infrastruktur yang baik akan menunjang aktivitas masyarakat.
“Kalau kita bicara lebih baik, jalan juga harus lebih baik. Ada jalan yang kurang lebih 200 meter di Dusun Krajan yang belum tuntas. Ini juga harus menjadi perhatian agar segera diperbaiki atau diaspal, kami tidak mau di paving,” ujarnya.
Namun, Sapto menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti pada bangunan fisik.
Seorang pemimpin, menurutnya, harus mampu melihat persoalan secara menyeluruh. Mana yang sudah tersentuh pembangunan dan mana yang belum, baik pembangunan fisik maupun pembangunan manusia.
“Pemimpin harus tahu mana yang sudah dibangun dan mana yang belum terjamah. Jangan hanya melihat pembangunan fisik, tetapi SDM juga harus dibangun. Itulah yang saya maksud menuju lebih baik,” tegasnya.
Generasi Muda Jangan Terjebak Narkoba, Alkohol dan Hoaks
Bagian lain yang menjadi perhatian Sapto adalah masa depan generasi muda.
Ia mengingatkan para pemuda agar menjauhi narkoba dan minuman beralkohol. Menurutnya, generasi muda merupakan aset bangsa yang harus dijaga bersama.
“Anak-anak kita harus pintar. Jangan sampai masa depan mereka rusak karena narkoba maupun alkohol. Mereka adalah generasi yang akan menentukan seperti apa Indonesia 20 tahun yang akan datang,” katanya.
Tak hanya ancaman narkoba dan alkohol, Sapto juga mengingatkan masyarakat tentang perkembangan teknologi, khususnya penggunaan telepon genggam dan media sosial.
Menurutnya, teknologi seharusnya digunakan untuk menambah pengetahuan, bukan menjadi sumber masalah. Berbagai informasi palsu atau hoaks yang beredar di media sosial harus dilawan dengan kecerdasan dan kemampuan memilah informasi.
“Handphone itu penting, teknologi juga penting. Tetapi jangan sampai anak-anak kita menerima semua informasi tanpa menyaring. Hoaks harus kita perangi. Anak-anak harus kita ajari bagaimana membedakan informasi yang benar dan yang tidak benar, bagi anak sekolah penting Tehnologi sebab belajar sekarang ada yang daring, tentu aplikasi kusus sekolah yang upload jadi anak anak harus diawasi menggunakan handphone,” tuturnya.
Sapto juga mengajak para orang tua lebih memperhatikan pola makan anak. Menurutnya, menciptakan generasi yang lebih baik dimulai dari hal sederhana, termasuk memastikan anak mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi.
“Kalau ingin anak-anak kita pintar, sehat dan tumbuh dengan baik, makanan juga harus diperhatikan. Jangan hanya memikirkan kenyang, tetapi harus sehat dan bergizi,” pesannya.
Menatap Indonesia 20 Tahun Mendatang
Bagi Sapto, kemerdekaan bukan hanya peristiwa sejarah yang dirayakan setiap bulan Agustus. Kemerdekaan harus menjadi momentum untuk mempersiapkan masa depan.
Ia membayangkan 20 tahun mendatang, anak-anak yang saat ini masih duduk, bermain dan belajar di lingkungan RW 04 akan menjadi generasi yang memegang peran penting di masyarakat.
Karena itu, menurutnya, apa yang dilakukan orang tua dan masyarakat hari ini akan menentukan seperti apa wajah Indonesia di masa depan.
“Kalau hari ini kita mendidik anak-anak dengan baik, menjaga mereka dari narkoba, mengajarkan mereka menghormati orang lain, memberikan makanan sehat dan membekali mereka dengan ilmu, insyaallah 20 tahun ke depan kita akan memiliki generasi yang baik. Kalau generasinya baik, negara kita juga akan menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Ketua panitia, Handoko Kusumo, mengatakan refleksi yang disampaikan Sapto menjadi bagian penting dalam tasyakuran HUT RI ke-81. Menurutnya, kemerdekaan harus diisi dengan tindakan nyata di lingkungan masyarakat.
“Pesan yang disampaikan sangat bagus. Kita tidak hanya mengenang perjuangan pahlawan, tetapi juga harus berpikir bagaimana menjaga dan mengisi kemerdekaan,” ujar Handoko.
Ia menilai semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap masa depan generasi memang harus terus dibangun dari lingkungan paling kecil.
“Kalau masyarakat guyub, rukun dan peduli terhadap generasi muda, tentu desa akan semakin baik,” kata Handoko.
Malam tasyakuran RW 04 akhirnya bukan hanya menjadi ajang berkumpul dan makan bersama. Di balik suasana sederhana tersebut, terselip sebuah pesan besar tentang masa depan.
Kemerdekaan telah diwariskan para pahlawan kepada generasi hari ini. Kini tugas masyarakat adalah mewariskan Indonesia yang lebih baik kepada generasi berikutnya.
Dan perjalanan menuju Indonesia yang lebih baik itu, seperti yang disampaikan Sapto, bisa dimulai dari hal sederhana: rukun dengan tetangga, bergotong royong, membangun SDM, memperbaiki lingkungan, menjaga anak-anak dan bersama-sama memerangi segala hal yang dapat merusak masa depan mereka. (Rony//B5)








