Depok, beritalima.com| – Mendengkur saat tidur disertai henti napas, terbangun karena tersedak atau terengah-engah, serta rasa kantuk berlebihan pada siang hari dapat berkaitan dengan sleep apnea.
Dari telaah Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), sleep apnea merupakan gangguan tidur yang menyebabkan seseorang mengalami henti napas atau napas menjadi sangat pendek secara berulang selama tidur. Kondisi tersebut membuat kualitas tidur terganggu karena tubuh tak mendapat waktu istirahat optimal.
Akibatnya, seseorang dapat merasa lelah meskipun telah tidur cukup, mengantuk pada siang hari, sulit berkonsentrasi, mudah lupa, berbagai keluhan lainnya. Secara umum, sleep apnea terdiri dari tiga jenis, yaitu obstructive sleep apnea (OSA), central sleep apnea (CSA), dan mixed sleep apnea.
OSA jenis yang paling sering terjadi, disebabkan penyempitan atau tersumbatnya saluran napas bagian atas saat tidur. Untuk CSA, terjadi ketika otak tidak mengirimkan sinyal tepat kepada otot yang mengatur pernapasan. Adapun mixed sleep apnea merupakan kombinasi dari kedua kondisi tersebut.
Risiko sleep apnea, terutama OSA, dapat meningkat pada seseorang dengan berat badan berlebih, bertambahnya usia, lingkar leher besar, riwayat keluarga dengan sleep apnea, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, hidung tersumbat kronis, maupun kelainan struktur saluran napas atas. Meski demikian, sleep apnea juga dapat terjadi pada orang dengan berat badan normal.
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah adanya henti napas saat tidur yang biasanya diketahui oleh pasangan atau anggota keluarga. Keluhan lainnya seperti sakit kepala saat bangun tidur, mulut atau tenggorokan terasa kering, serta sering terbangun karena tersedak atau terengah-engah.
Jika tak ditangani, gangguan pernapasan berulang selama tidur dapat berdampak pada kesehatan. Sleep apnea dapat berkaitan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, diabetes melitus tipe 2, serta gangguan konsentrasi dan daya ingat, kantuk berlebihan pada siang hari.
Hadapi sleep apnea disesuaikan dengan kondisi pasien. Dokter dapat menganjurkan perubahan gaya hidup, seperti menjaga berat badan, berolahraga rutin, tidur posisi menyamping, batasi konsumsi alkohol dan berhenti merokok. Pada kondisi tertentu, penanganan mencakup penggunaan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), oral appliance, maupun tindakan lain sesuai hasil pemeriksaan.
Karena tidak semua orang yang mendengkur mengalami sleep apnea, pemeriksaan diperlukan untuk memastikan penyebab keluhan. Masyarakat disarankan konsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mendengkur keras hampir tiap malam, mengalami henti napas saat tidur, sering terbangun karena tersedak atau terengah-engah, atau terasa kantuk berlebihan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Bila merasa ada indikasi keluhan seperti diatas, tak ada salahnya melakukan konsultasi atau pemeriksaan ke dokter atau rumah sakit terdekat.
Jurnalis: abri/rusman








