Saat Sound Horeg Berubah Jadi Panggung Sejarah, Drama Sritanjung Bikin Warga Terpukau

  • Whatsapp
Foto: Sound horeg biasanya identik dengan kemeriahan dan joget. Namun, suasana berbeda terlihat dalam “Bulurejo Enek Karnaval” di Desa Bulurejo. (Doc, Rony Subhan)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Dentuman sound horeg biasanya identik dengan kemeriahan dan joget. Namun, suasana berbeda terlihat dalam “Bulurejo Enek Karnaval” di Desa Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-81.

Di tengah parade 20 kelompok peserta, sebuah penampilan justru membuat perhatian penonton seketika tertuju ke jalan. Bukan sekedar atraksi musik atau joget, peserta menampilkan drama kolosal pendek kisah Sritanjung, legenda yang lekat dengan asal-usul Banyuwangi.

Bacaan Lainnya

Durasi penampilan memang hanya sekitar tujuh menit. Namun, waktu yang singkat itu mampu dimanfaatkan peserta untuk membangun suasana cerita. Para pemain tampak menjiwai karakter yang diperankan, lengkap dengan ekspresi dan gerakan yang membuat penonton seolah dibawa masuk ke dalam kisah legenda tanah Blambangan.

Sejumlah warga yang berada di sepanjang rute bahkan terlihat terpaku menyaksikan adegan demi adegan. Ada yang melongo, ada pula yang tetap berdiri meski rombongan berikutnya mulai bersiap melintas.

Sayangnya, penampilan tersebut harus berakhir ketika cerita belum sepenuhnya terurai.

Waktu tampil memang sengaja dibatasi panitia. Banyaknya peserta yang mengikuti karnaval membuat panitia harus mengatur durasi setiap penampilan agar seluruh rombongan dapat menyelesaikan rute sebelum malam semakin larut.

Meski singkat, penampilan drama Sritanjung meninggalkan kesan tersendiri bagi masyarakat. Bagi penonton, tujuh menit terasa belum cukup untuk menikmati cerita yang sebenarnya memiliki alur panjang dan sarat nilai budaya.

Tak hanya drama kolosal, setiap kelompok peserta juga menunjukkan kreativitas masing-masing. Ada yang mengusung konsep budaya dan legenda, ada yang menghadirkan atraksi, hingga menampilkan gaya joget horeg masa kini yang membuat suasana sepanjang jalan semakin meriah.

Namun, di balik kemeriahan tersebut, pesan tentang budaya tetap menjadi bagian penting dari pawai.

Seorang warga, Agus, mengaku terhibur dengan berbagai penampilan yang disuguhkan peserta. Menurutnya, kemeriahan karnaval menjadi semakin bermakna ketika masyarakat tidak hanya menikmati hiburan, tetapi juga mendapatkan tontonan yang mengingatkan pada sejarah dan budaya daerah.

“Yang menarik itu ketika ada peserta yang menampilkan cerita Sritanjung. Kita yang melihat seperti ikut masuk ke ceritanya. Walaupun hanya sekitar tujuh menit, pemainnya benar-benar menjiwai,” ujar Agus.

Menurutnya, momentum HUT Kemerdekaan tidak harus selalu dirayakan dengan kegiatan yang bersifat seremonial. Kreativitas masyarakat melalui seni dan budaya juga menjadi cara untuk mengisi kemerdekaan.

“Ini bagian dari cara kita mengisi kemerdekaan. Anak-anak muda bisa tampil, masyarakat berkumpul, budaya daerah juga dikenalkan. Jadi bukan hanya hiburan, tetapi ada nilai yang kita dapat,” imbuhnya.

Foto: Sejumlah lakon ditampilkan diacara pawai budaya sound horeg desa Bulurejo. (Doc, Rony Subhan)

Bukan Hanya Sritanjung

Kepala Desa Bulurejo Widarto menjelaskan, pilihan cerita dalam karnaval memang sengaja dibuat beragam. Selain kisah Sritanjung, sejumlah peserta juga mengangkat cerita Ramayana dan berbagai legenda yang berkembang di tanah Blambangan.

Menurutnya, keberagaman cerita tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat masih memiliki perhatian terhadap kekayaan budaya dan sejarah.

“Tidak hanya Sritanjung. Ada juga yang mengangkat cerita Ramayana dan cerita-cerita legenda tanah Blambangan. Ini menunjukkan bahwa masyarakat punya kreativitas sekaligus keinginan untuk mengenalkan kembali cerita budaya kepada generasi sekarang,” jelas Windarto.

Ia menilai, karnaval menjadi salah satu ruang yang efektif untuk memperkenalkan cerita-cerita tradisional kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Di tengah perkembangan teknologi dan hiburan digital, cerita rakyat menurutnya tetap perlu diberikan ruang agar tidak hilang ditelan zaman.

“Harapannya budaya dan cerita legenda ini tetap dikenal. Jangan sampai generasi muda hanya mengenal budaya dari luar, sementara cerita dari daerah sendiri justru dilupakan,” katanya.

Foto: Ribuan penonton memadati jalan desa diacara pawai budaya sound horeg namun tetap tertib. (Doc, Rony Subhan)

Meriah, tetapi Tetap Tertib

Meskipun diiringi sound horeg dengan suasana yang cukup meriah, jalannya pawai budaya secara keseluruhan berlangsung tertib.

Peserta mengikuti rute yang telah ditentukan. Petugas keamanan bersama unsur terkait juga melakukan pengaturan di sepanjang jalur untuk menjaga kelancaran arus masyarakat dan memastikan kegiatan berjalan aman.

Panitia juga terus mengingatkan peserta agar mengikuti ketentuan waktu penampilan. Hal tersebut dilakukan bukan untuk mengurangi kreativitas, melainkan agar seluruh kelompok mendapatkan kesempatan tampil dan rangkaian karnaval dapat selesai sesuai jadwal.

Dari satu rombongan ke rombongan lainnya, kreativitas terus berganti. Musik, kostum, drama, budaya dan joget horeg berpadu menjadi satu pertunjukan rakyat.

Bulurejo Enek Karnaval akhirnya tidak sekadar menghadirkan dentuman musik dan kemeriahan HUT RI ke-81. Di balik suara sound horeg, masyarakat juga diajak kembali mengenal kisah Sritanjung, Ramayana dan legenda tanah Blambangan.

Sebuah cara sederhana masyarakat merayakan kemerdekaan: bergembira bersama, berkarya, sekaligus menjaga cerita budaya agar tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah. (Rony//B5)

beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait