Satu Tampah, Beragam Cerita: Menyajikan Warna dan Rasa Nusantara di Rumah Proklamator Bung Hatta

  • Whatsapp

Jakarta | beritalima.com — Satu tampah bukan sekadar sajian makanan. Di dalamnya tersimpan cerita tentang tradisi, kerinduan pada kampung halaman, kekayaan kuliner Nusantara, sekaligus kecintaan terhadap Indonesia.

Itulah yang terasa dalam sajian kue tampah yang dipersiapkan UMKM Alarice, milik Ibu Dea, dalam kegiatan Napak Tilas Kemerdekaan Republik Indonesia di Rumah Keluarga Besar Proklamator Bung Hatta.

Dari sebuah dapur kecil UMKM, lahirlah aneka kue tradisional yang kemudian mendapat kesempatan istimewa untuk disajikan kepada Ibu Gemala Hatta, putri Proklamator Bung Hatta, bersama para tamu yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Bagi Alarice, kepercayaan ini bukan sekadar kesempatan menyajikan makanan. Ini merupakan sebuah kebanggaan sekaligus penghormatan karena dapat turut hadir dalam momentum memperingati 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia melalui napak tilas di rumah salah satu Proklamator bangsa.

Dari Dapur Kecil, Membawa Cerita Besar Indonesia
Tampah yang disajikan Alarice menghadirkan ragam kue tradisional Indonesia yang akrab di lidah, tetapi menyimpan kekayaan sejarah dan budaya di balik setiap gigitan.

Ada Cente Manis yang lembut dan menggoda, Kue Lumpang dengan teksturnya yang khas, Kue Bugis Mandi yang legit dengan cita rasa santan, Dadar Gulung yang harum pandan dengan isian kelapa manis, Bika Ambon yang berserat dan kaya rasa, hingga Lapis Tapioka yang kenyal dan cantik berlapis-lapis.

Setiap jenis kue memiliki karakter tersendiri, namun ketika ditata bersama dalam satu tampah, semuanya seolah menjadi satu cerita: cerita tentang Indonesia yang beragam, penuh warna, namun tetap indah ketika disatukan.

Cantik Karena Alam, Bukan Sekadar Pewarna
Keistimewaan sajian Alarice tidak hanya terletak pada cita rasanya.

Warna-warni kue diperoleh dengan memanfaatkan bahan alami dari sari buah dan tumbuhan, antara lain ekstrak buah naga, kembang telang, jus pandan, dan kunyit.

Merah dari buah naga, biru dari kembang telang, hijau dari pandan, serta kuning dari kunyit menghadirkan tampilan yang memanjakan mata sekaligus membawa kita kembali pada kekayaan alam Indonesia.

Konsep ini menjadi bagian dari upaya Alarice untuk menghadirkan jajanan tradisional yang tidak hanya lezat dan menarik, tetapi juga mengangkat pemanfaatan bahan alami dalam pangan.

Karena makanan tradisional bukan hanya soal rasa. Ia juga tentang bahan, proses, warisan, dan cerita yang ingin kita teruskan kepada generasi berikutnya.
Ketika Kuliner Menjadi Bagian dari Napak Tilas Sejarah

Ada sesuatu yang istimewa ketika kue-kue tradisional Indonesia hadir di rumah seorang Proklamator.
Di tempat yang menyimpan jejak perjuangan Bung Hatta, sajian sederhana dari dapur UMKM justru menghadirkan pesan yang begitu kuat: kemerdekaan juga berarti memberi ruang bagi karya anak bangsa untuk tumbuh dan berkembang.

Alarice mungkin berawal dari dapur kecil. Namun dari dapur kecil itulah lahir sebuah karya yang dapat hadir dalam peristiwa yang sarat makna sejarah.
Satu tampah kemudian menjadi lebih dari sekadar hidangan.

Ia menjadi pertemuan antara kuliner, budaya, sejarah, UMKM, dan kecintaan terhadap Indonesia.
Dari satu potong kue, kita diingatkan bahwa Indonesia memiliki begitu banyak rasa untuk dirayakan.
Dari satu tampah, kita belajar bahwa keberagaman justru menjadi kekuatan ketika disajikan bersama.

Alarice — Merawat Rasa, Menjaga Cerita Nusantara
Alarice
Instagram: @a.la.rice
WhatsApp: 0899 9843 264
Karena setiap kue memiliki rasa, setiap rasa memiliki cerita, dan setiap cerita adalah bagian dari kekayaan Indonesia.

Jurnalis: dedy

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait