SURABAYA, beritalima.com | Dewan Pengurus Wilayah Forum Komunikasi Pendidikan Al-Qur’an (DPW FKPQ) Jawa Timur yang diketuai oleh H. Abdul Aziz,
menyampaikan sejumlah aspirasi terkait keberlangsungan Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ), peningkatan kualitas pendidikan, serta kesejahteraan guru ngaji kepada Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama.
Pertemuan tersebut membahas berbagai persoalan yang dihadapi LPQ dan guru ngaji di Jawa Timur, termasuk terkait dukungan pemerintah, legalitas kelembagaan, penguatan sumber daya manusia (SDM), hingga peningkatan kualitas tahsin.
“Alhamdulillah, atas doa dan dorongan kawan-kawan DPW FKPQ Jawa Timur, kami bisa bersilaturahmi dengan anggota DPD RI. Kami menyampaikan berbagai curhatan dan aspirasi yang selama ini menjadi perhatian kami di lapangan, khususnya terkait pendidikan Al-Qur’an dan guru ngaji,” ujar Abdul Aziz.
Salah satu persoalan yang disampaikan FKPQ Jatim adalah masih adanya guru ngaji dan lembaga pendidikan Al-Qur’an yang disebut belum pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah provinsi Jawa Timur untuk para guru ngaji dan LPQ. Selama ini masih ada yang belum pernah menerima bantuan provinsi. Karena itu, kami berharap ada kebijakan yang bisa membantu keberlangsungan lembaga dan para guru ngaji,” katanya.
Menurutnya, bentuk dukungan yang diharapkan antara lain Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) maupun insentif bagi LPQ dan guru ngaji.
Selain persoalan bantuan, FKPQ Jatim juga menyampaikan pentingnya penguatan SDM di lingkungan LPQ dan organisasi, terutama dalam menghadapi perkembangan teknologi digital.
Persoalan izin operasional (Izop) lembaga serta peningkatan kualitas tahsin juga menjadi bagian dari pembahasan. FKPQ menilai legalitas kelembagaan dan mutu pembelajaran perlu diperkuat secara bersamaan.
Dalam kesempatan tersebut, DPW FKPQ Jawa Timur juga menyerahkan manuskrip Tahsin-PMPQ kepada Lia Istifhama untuk mendapatkan masukan dan pandangan.
Tahsin-PMPQ merupakan program mengaji bagi guru Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dengan target khatam 30 juz menggunakan metode membaca Al-Qur’an dengan berlagu atau bittaghonniy.
Penyerahan manuskrip tersebut diharapkan menjadi bagian dari proses penyempurnaan materi sekaligus upaya memperkaya khazanah pembelajaran tahsin di Jawa Timur, khususnya bagi para guru TPQ.
“Kami juga menyerahkan manuskrip PMPQ untuk mendapatkan masukan. Harapannya, manuskrip ini bisa terus disempurnakan, sehingga dapat menambah kualitas dan khazanah tahsin di Jawa Timur, khususnya bagi pendidikan Al-Qur’an,” ujar Abdul Aziz.
Ia menambahkan, pengembangan kualitas tahsin menjadi salah satu perhatian FKPQ dalam memperkuat mutu pendidikan Al-Qur’an. Karena itu, materi dan metode pembelajaran dinilai perlu terus dikembangkan melalui masukan dari berbagai pihak.
Menanggapi aspirasi tersebut, Lia Istifhama menyambut baik silaturahmi dan berbagai masukan yang disampaikan jajaran FKPQ Jatim.
Menurut Lia, LPQ dan guru ngaji memiliki peran penting dalam membangun pendidikan Al-Qur’an di tengah masyarakat. Karena itu, berbagai persoalan yang berkaitan dengan penguatan kelembagaan, SDM, legalitas, tahsin, serta dukungan bagi guru ngaji perlu terus dikomunikasikan kepada pihak terkait.
“Kami menyambut baik silaturahmi dan aspirasi dari FKPQ Jawa Timur. Apa yang disampaikan menjadi masukan penting, terutama terkait penguatan SDM, legalitas lembaga, tahsin, serta dukungan bagi guru ngaji dan LPQ. Aspirasi ini perlu kita komunikasikan dan carikan ruang tindak lanjut sesuai kewenangan masing-masing,” ujar Lia.
Terkait manuskrip Tahsin-PMPQ, Lia juga mengapresiasi langkah FKPQ yang tidak hanya menyampaikan aspirasi, tetapi turut mendorong peningkatan kualitas pembelajaran Al-Qur’an.
“Manuskrip ini tentu menjadi bagian dari ikhtiar untuk memperkaya khazanah pendidikan Al-Qur’an. Masukan dan penyempurnaan penting agar materi yang dikembangkan semakin baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam penguatan tahsin,” sambungnya.
“Saya berharap komunikasi seperti ini terus berjalan. Ketika ada persoalan di lapangan, sampaikan dengan data dan aspirasi yang jelas, sehingga lebih mudah untuk kita dorong melalui jalur yang sesuai,” lanjutnya.
Abdul Aziz berharap silaturahmi tersebut tidak berhenti sebagai pertemuan semata, tetapi dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat komunikasi dan perhatian terhadap pendidikan Al-Qur’an serta kesejahteraan guru ngaji di Jawa Timur.
“Kami berharap apa yang kami sampaikan ini bisa menjadi langkah untuk membantu memfasilitasi aspirasi FKPQ. Kami ingin pendidikan Al-Qur’an, LPQ, dan guru ngaji mendapatkan perhatian yang lebih baik dari pemerintah,” pungkasnya.(Yul)








