Sound Horeg Bawa Berkah, Ratusan Pedagang Kaki Lima Ketiban Rezeki di Pawai Budaya Bulurejo

  • Whatsapp
Foto: Pedagang kakilima ramai pembeli dipawai budaya sound horeg desa Bulurejo. (Doc, Rony Subhan)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Dentuman sound horeg dalam gelaran “Bulurejo Enek Karnaval” di Desa Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, tak hanya menjadi magnet bagi penonton. Keramaian yang tercipta ternyata ikut membuka peluang rezeki bagi ratusan pedagang kaki lima yang memadati sepanjang jalur pawai.

Bagi para pedagang, ribuan masyarakat yang datang menyaksikan parade budaya merupakan pasar yang tidak boleh dilewatkan.

Bacaan Lainnya

Salah satunya Astra, pedagang minuman dan mi asal Desa Pedotan. Ia mengaku setiap ada pawai budaya yang menghadirkan sound horeg, peluang mendapatkan keuntungan menjadi lebih besar.

Menurut Asra, banyaknya masyarakat yang berkumpul membuat dagangannya lebih cepat terjual dibandingkan hari biasa.

“Kalau ada sound horeg itu bisa dipastikan ada untung, karena orang yang datang banyak dan biasanya banyak yang belanja. Keramaian seperti ini sangat membantu pedagang,” ujar Asra.

Bagi dirinya, pawai budaya bukan sekedar hiburan masyarakat. Di balik kemeriahan dan dentuman musik, ada perputaran uang yang dirasakan langsung oleh pedagang kecil.

Penonton yang datang dari berbagai daerah biasanya tidak hanya berdiri di pinggir jalan menikmati parade. Mereka juga membeli minuman untuk melepas dahaga, makanan untuk mengganjal perut, hingga jajanan untuk dibawa pulang.

Kondisi tersebut membuat kawasan sekitar jalur pawai berubah menjadi pasar dadakan.

Asra bahkan menyebut musim pawai budaya sound horeg di Banyuwangi menjadi salah satu waktu yang cukup menjanjikan bagi pedagang kaki lima.

“Biasanya mulai bulan Juli sampai Desember acaranya panjang. Hampir setiap hari di Banyuwangi ada pawai budaya sound horeg, meskipun lokasinya berpindah-pindah. Jadi kami sebagai pedagang tinggal mengikuti acara,” ungkapnya.

Menurutnya, banyaknya agenda pawai membuat pedagang seperti dirinya memiliki lebih banyak pilihan untuk mencari penghasilan. Setelah satu acara selesai, sudah ada agenda lain di desa atau wilayah berbeda.

“Bagi pedagang seperti saya, ini kesempatan untuk mencari rezeki. Selama acaranya ramai dan masyarakat tertib, kami juga senang,” katanya.

Foto: Pedagang kakilima. (Doc, Rony Subhan)

Dari Panggung Hiburan Menjadi Pasar Rakyat

Fenomena tersebut memperlihatkan sisi lain dari gelaran pawai budaya. Jika peserta menjadikan jalan desa sebagai panggung untuk menampilkan kreativitas, para pedagang memanfaatkan momentum yang sama sebagai ruang untuk menggerakkan usaha.

Ratusan pedagang kaki lima hadir menawarkan berbagai macam dagangan. Mulai minuman dingin, mi, rujak buah, makanan ringan, hingga berbagai kuliner khas lainnya.

Sebelumnya, Sugiono, pedagang rujak buah asal Cluring, juga mengaku mendapatkan berkah dari ramainya pawai sound horeg. Ia bahkan menyiapkan sekitar 50 kilogram buah untuk berjualan.

Sambal rujak yang disiapkannya mencapai sekitar 10 kilogram dan biasanya bisa habis dalam waktu sekitar tiga hari.

“Kalau ada horeg, habis, Mas. Alhamdulillah sound horeg bagi saya berkah karena dagangan ramai,” ujar Sugiono.

Cerita Asra dan Sugiono menjadi gambaran bagaimana sebuah kegiatan budaya mampu menciptakan efek ekonomi secara langsung.

Kerumunan penonton menciptakan permintaan. Permintaan membuat pedagang mendapatkan pembeli. Dari transaksi-transaksi kecil itulah roda ekonomi masyarakat terus berputar.

Foto: Pedagang minuman. (Doc, Rony Subhan)

Kades: Kemeriahan Harus Memberi Manfaat

Kepala Desa Bulurejo Widarto mengatakan pelaksanaan “Bulurejo Enek Karnaval” memang diharapkan mampu memberikan manfaat luas kepada masyarakat.

Menurutnya, pawai budaya dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-81 bukan hanya menjadi ajang hiburan dan kreativitas warga, tetapi juga harus memberikan ruang bagi pelaku UMKM dan pedagang kecil.

“Kami berharap kegiatan ini bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. Selain peserta bisa menampilkan kreativitas dan warga mendapatkan hiburan, para pedagang dan UMKM juga bisa ikut mendapatkan rezeki,” jelas Widarto.

Ia menilai keberadaan pedagang di sepanjang jalur pawai justru menjadi bagian dari denyut kegiatan masyarakat.

“Kalau masyarakat ramai, pedagang juga mendapatkan kesempatan. Ini menjadi perputaran ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat. Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus memberikan dampak positif,” imbuhnya.

Foto: Pedagang jagung rebus. (Doc, Rony Subhan)

Juli hingga Desember, Musim Pawai Budaya

Bagi Asra, rentang waktu Juli hingga Desember seperti menjadi musim tersendiri bagi pedagang yang biasa mengikuti kegiatan pawai sound horeg.

Hampir setiap hari, menurut pengakuannya, selalu ada agenda pawai budaya di berbagai wilayah Banyuwangi. Lokasinya berpindah dari satu desa ke desa lainnya.

Bagi penonton, mungkin yang paling dinanti adalah dentuman musik, kemeriahan peserta dan berbagai atraksi budaya.

Namun bagi pedagang kaki lima, ada hal lain yang juga ditunggu: ramainya pembeli.

Di tengah perayaan HUT RI ke-81, pawai budaya akhirnya tidak hanya menjadi panggung untuk menunjukkan kreativitas dan kecintaan terhadap budaya.

Ia juga menjelma menjadi pasar rakyat berjalan, tempat pedagang kecil mencari rezeki dan masyarakat menikmati hiburan sekaligus kuliner.

Bagi Asra, cukup sederhana ukurannya.

“Ada sound horeg, orang ramai, orang belanja. Pedagang dapat untung.” ujarnya.

Dan dari keramaian itulah, rezeki para pedagang kecil terus berputar. (Rony//B5)

beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait