BANYUWANGI,Beritalima.com – Dentuman sound horeg yang mengiringi Pawai Budaya Puja Seri 1 di wilayah Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, ternyata bukan hanya menjadi hiburan bagi ribuan warga. Bagi para pelaku UMKM dan pedagang kaki lima, keramaian tersebut juga berubah menjadi ladang rezeki.
Sejak sore, sepanjang jalur pawai dipenuhi pedagang yang menjajakan aneka makanan dan minuman. Ribuan penonton tampak duduk rapi di pinggir jalan, sebagian sambil menikmati camilan dan minuman yang mereka beli dari pedagang sekitar.
Menariknya, reaksi penonton terhadap suara sound horeg juga beragam. Ada yang terlihat begitu menikmati dentuman musik, namun ada pula yang sesekali menutup telinga karena suara yang cukup keras. Meski begitu, suasana tetap terasa semarak dan warga tampak antusias menyaksikan penampilan 22 peserta yang melintas.
Di tengah keramaian itu, Purwanto, seorang pedagang es tung-tung, terlihat sumringah sembari merapikan dagangannya. Hampir seluruh es yang dibawanya ludes diserbu pembeli.
“Alhamdulillah, hari ini es saya hampir habis. Kalau hari ini hampir dapat Rp500 ribu. Padahal kalau hari biasa, tidak ada sound horeg, pendapatan saya di bawah itu,” terang Purwanto.
Menurutnya, keramaian seperti Pawai Budaya menjadi kesempatan yang sangat berarti bagi pedagang kecil. Banyaknya warga yang datang membuat dagangan yang biasanya harus dibawa berkeliling lebih lama, kali ini bisa cepat terjual di satu lokasi.
“Kalau ada acara seperti ini kami sangat terbantu. Pembeli datang terus, apalagi orang tua yang membawa anak-anak. Anak-anak biasanya paling suka beli es. Jadi kami tidak hanya dapat tambahan penghasilan, tetapi juga merasa senang karena bisa ikut meramaikan acara,” katanya.
Purwanto berharap kegiatan yang melibatkan masyarakat dan UMKM seperti ini bisa terus digelar. Menurutnya, ketika masyarakat berkumpul, perputaran ekonomi kecil di sekitar lokasi acara juga ikut bergerak.
“Bagi kami pedagang kecil, keramaian itu rezeki. Yang penting acara aman, tertib, dan kami bisa mencari nafkah dengan cara yang baik. Semoga tahun depan lebih ramai lagi dan pedagang kecil seperti kami semakin banyak mendapat kesempatan,” ujarnya.
Kondisi serupa juga dirasakan Selamet, pedagang es tebu yang berjualan di sepanjang jalur pawai. Ia mengaku jumlah pembeli meningkat dibandingkan hari biasa.
“Alhamdulillah ada peningkatan. Orang yang datang banyak, setelah melihat pawai biasanya haus, akhirnya mampir beli es tebu. Ini yang kami harapkan kalau ada acara seperti ini, bukan hanya hiburan untuk warga, tapi pedagang juga bisa mendapatkan rezeki,” ungkapnya.

Menurut Selamet, keberadaan pedagang di tengah acara juga membuat suasana pawai semakin hidup. Penonton bisa menikmati pertunjukan sambil membeli makanan dan minuman tanpa harus meninggalkan lokasi.
Namun, tidak semua pedagang merasakan keuntungan yang sama. Wanto, pedagang cilok, mengaku tahun ini penjualannya justru tidak sebesar saat pawai sound horeg tahun sebelumnya.
“Tahun ini agak berkurang, Mas. Tidak seperti sound horeg tahun lalu, biasanya dagangan saya selalu habis. Ini saya modal Rp500 ribu dapat sekitar Rp600 ribu,” terangnya.
Meski hanya memperoleh keuntungan tipis, Wanto memilih tetap bersyukur. Baginya, bisa membawa pulang keuntungan dari hasil berjualan tetap merupakan rezeki yang patut disyukuri.
“Saya tetap bersyukur, Mas. Alhamdulillah masih dapat, walaupun keuntungannya tipis. Namanya pedagang, kadang ramai, kadang sepi. Yang penting modal kembali dan masih ada sedikit keuntungan,” ujarnya.
Wanto juga mengaku tidak ingin menyalahkan ramainya atau sepinya pembeli. Ia justru melihat keberadaan pawai dan sound horeg sebagai peluang bagi seluruh pedagang untuk mendapatkan tambahan penghasilan.
“Saya malah berterima kasih ada acara seperti ini. Dengan adanya sound horeg dan pawai, ribuan orang datang. Hampir semua pedagang pasti kebagian rezeki. Mungkin ada yang dagangannya habis, ada yang untung banyak, ada juga seperti saya yang untungnya sedikit. Tapi tetap saja ini membantu kami,” katanya.
Pawai budaya akhirnya tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Di balik gemuruh sound horeg dan kemeriahan 22 peserta, ada cerita lain yang tak kalah menarik: tentang pedagang kecil yang berharap pada keramaian untuk membawa pulang rezeki.

Ada yang tersenyum karena dagangan hampir ludes, ada yang menghitung keuntungan dengan napas lega, dan ada pula yang hanya mendapat untung tipis. Namun bagi mereka, satu hal tetap sama: setiap keramaian adalah kesempatan, dan setiap pembeli adalah rezeki. (Rony//B5)







