SURABAYA, beritalima.com | Wakil ketua DPRD provinsi Jawa Timur Sri Wahyuni menuturkan bahwa karakter masyarakat awam belum memiliki kesadaran untuk memeriksakan kesehatan secara mandiri.
Wahyuni mengakui sebagian besar masyarakat mengidap “ketakutan” kalau berhadapan dengan tenaga kesehatan. Ada semacam trauma yang mengendap di dalam benak mereka.
“Mereka takut kalau ternyata mereka mengidap suatu penyakit. Atau mereka takut biaya periksa kesehatan terlalu mahal, mereka takut tidak bisa membayar,” terang perempuan cantik berhijab yang selalu tampil cool ini.
Politisi partai Demokrat tersebut menjelaskan, bahwa pihaknya sering harus mendatangi mereka dari rumah ke rumah untuk periksa kesehatan ke posyandu.
“Harus dirayu dan diyakinkan bahwa periksa kesehatan sedari dini sangat diperlukan, agar jika mereka ternyata misalnya mengidap suatu penyakit bisa disembuhkan karena berobat dari awal, sebelum benih penyakit menyebar kemana-mana,” sambungnya.
Sri Wahyuni sering membawakan mereka vitamin, mengajak mengobrol tentang strategi pencegahan suatu penyakit.
“Kalau sudah dijelaskan dengan gamblang, mereka baru mengerti bahwa menjaga kesehatan itu sangat penting. Karena ketika mereka terlanjur sakit, biaya pengobatannya sangat mahal. Disamping itu, kalau mereka sakit, maka mereka tidak bisa bekerja, mereka akan menyusahkan keluarganya,” tukasnya.
Dengan demikian, keterbukaan komunikasi dengan masyarakat membantu mereka untuk berani mengemukakan pendapat, mereka berani menyampaikan aspirasinya, mereka berani memberikan ide-ide jika terjadi persoalan sosial di lingkungan mereka.
“Masyarakat itu, terutama masyarakat pedesaan ya, kalau tidak diajak bicara, tidak disapa, ya mereka tidak berani. Jadi sebagai wakil rakyat, sudah menjadi suatu kewajiban bagi saya untuk terus mendampingi mereka,nimat agar mereka juga merasa punya keberanian dan Kekuatan untuk bersama-sama menjaga lingkungan, bersama-sama bergotong royong dan harmonis menikmati hidup bertetangga,” pungkasnya.(Yul)








