BANYUWANGI,Beritalima.com – Suasana tasyakuran HUT Kemerdekaan RI ke-81 di RW 04, Dusun Krajan, Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, mendadak berubah haru. Bukan karena kemeriahan, melainkan ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan.
Di tengah suasana malam yang sebelumnya dipenuhi kebersamaan warga, operator acara tiba-tiba menghentikan sejenak rangkaian kegiatan. Seorang dirigen/pemandu lagu berdiri di hadapan warga. Tangannya mulai memberi aba-aba, mengiringi lantunan Indonesia Raya.
Perlahan, seluruh warga berdiri. Suara mereka menyatu menyanyikan lagu kebangsaan.
Namun, di balik lantang suara Indonesia Raya, tersimpan suasana berbeda. Sejumlah warga tampak terdiam, bahkan beberapa di antaranya terlihat berkaca-kaca. Lagu yang biasa didengar dalam berbagai upacara itu malam tersebut seolah membawa mereka kembali membayangkan perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raganya demi kemerdekaan.

Bagi warga, malam itu bukan sekedar menyanyikan lagu kebangsaan. Ada renungan tentang betapa mahal harga sebuah kemerdekaan yang kini bisa dinikmati dengan kehidupan yang relatif aman dan tenteram.
Ketua RW 04, Kandar, mengaku ikut tersentuh ketika Indonesia Raya dinyanyikan bersama-sama.
Ia mengatakan, saat lagu tersebut berkumandang, pikirannya seakan dibawa untuk mengenang kembali para pejuang yang telah berjuang dengan segala keterbatasan.
“Saya terharu. Ketika Indonesia Raya dinyanyikan bersama, saya teringat bagaimana perjuangan para pahlawan dulu. Mereka berjuang dengan pengorbanan yang luar biasa, sementara kita sekarang tinggal menikmati kemerdekaan,” ungkap Kandar.
Menurutnya, suasana tersebut juga menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya sebuah perayaan tahunan. Di balik kemerdekaan terdapat darah, air mata dan pengorbanan para pejuang yang tidak boleh dilupakan.
“Kadang kita yang hidup sekarang lupa bahwa kemerdekaan ini tidak diberikan begitu saja. Ada perjuangan dan pengorbanan. Karena itu, malam ini saya merasa sangat tersentuh. Kita harus bersyukur dan mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang baik,” lanjutnya.
Kandar berharap, momen sederhana yang dilakukan warga RW 04 tersebut dapat menjadi pengingat bagi generasi muda agar tidak kehilangan rasa cinta terhadap tanah air.
Terlebih, di tengah berbagai persoalan yang dihadapi bangsa saat ini, semangat persatuan justru harus semakin dijaga. Perbedaan pilihan, pendapat maupun latar belakang jangan sampai menghilangkan rasa sebagai satu bangsa.
Malam itu, Indonesia Raya bukan hanya terdengar sebagai sebuah lagu. Ia menjadi pengingat tentang perjuangan, pengorbanan dan harga sebuah kemerdekaan.
Di jalan kampung RW 04 Dusun Krajan, warga berdiri dalam satu barisan. Untuk beberapa menit, mereka meninggalkan kesibukan masing-masing dan menyatukan suara.

Sebagian mungkin menahan air mata. Sebagian lainnya menundukkan kepala. Namun semuanya memiliki satu perasaan yang sama: bersyukur karena hari ini masih bisa berdiri dengan aman di negeri yang telah diperjuangkan para pahlawan.
Dan dari malam tasyakuran itu, satu pesan sederhana kembali terasa kuat: jangan pernah menikmati kemerdekaan sampai membuat kita lupa kepada mereka yang telah mengorbankan segalanya untuk Indonesia. (Rony//B5)







