Ubeng Deso, Tradisi Sakral Warga Tamanagung Sambut Malam Suro; Keliling Batas Desa Hingga Menjelang Subuh

  • Whatsapp
Foto: Di tengah perkembangan zaman, warga desa ini masih setia menjaga tradisi leluhur melalui ritual unik bertajuk Ubeng Deso. (Doc, Istimewa)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Malam Satu Suro menjadi momen yang penuh makna bagi masyarakat Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Di tengah perkembangan zaman, warga desa ini masih setia menjaga tradisi leluhur melalui ritual unik bertajuk Ubeng Deso, sebuah kegiatan mengelilingi batas wilayah desa yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi tersebut digelar usai doa bersama dan selamatan yang dipusatkan di desa setempat. Setelah lantunan doa dipanjatkan, puluhan warga mulai dari remaja dan orang dewasa mulai berjalan kaki menyusuri batas desa. Kegiatan dimulai sekitar pukul 20.00 WIB dan baru berakhir menjelang subuh sekitar pukul 03.00 WIB.

Bacaan Lainnya

Suasana malam yang sunyi berubah menjadi penuh kekhidmatan. Berbekal lampu penerangan sederhana, peserta berjalan menyusuri jalan setapak, area persawahan hingga perkebunan yang berada di bibir perbatasan desa. Langkah demi langkah mereka tempuh sebagai simbol ikhtiar menjaga keselamatan kampung serta mempererat kebersamaan antar warga.

Kepala Desa Tamanagung, Suharto, mengatakan tradisi Ubeng Deso merupakan agenda rutin yang selalu dilaksanakan setiap malam Satu Suro. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya berjalan mengelilingi desa, melainkan sarat makna spiritual dan sosial.

“Tradisi ini kami laksanakan setiap malam Suro. Rutenya dimulai dari perbatasan desa, menyusuri jalan setapak, area perkebunan hingga persawahan yang berada di bibir batas desa dengan desa lain. Selain itu kami juga menggelar doa bersama dan selamatan sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar seluruh warga diberikan keselamatan, kesehatan serta dijauhkan dari segala bala dan musibah,” ujar Suharto.

Dalam pelaksanaannya, rombongan melintasi sejumlah wilayah dusun yang ada di Desa Tamanagung, yakni Dusun Krajan, Dusun Sagat, Dusun Sumberwaru, dan Dusun Sumberjeruk. Keempat dusun tersebut menjadi bagian dari rute perjalanan warga saat mengitari batas desa.

Suharto menambahkan, tradisi yang telah berlangsung sejak lama itu juga menjadi sarana memperkuat rasa persaudaraan di tengah masyarakat. Sebab, selama perjalanan seluruh peserta berjalan bersama tanpa memandang usia maupun status sosial.

“Bukan hanya menjaga tradisi leluhur, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi warga. Sejumlah pemuda, orang tua banyak yang ikut. Semangat kebersamaan inilah yang ingin terus kami lestarikan,” tambahnya.

Bagi masyarakat Tamanagung, malam Satu Suro bukan hanya pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. Lebih dari itu, momentum tersebut dimaknai sebagai waktu untuk introspeksi diri, memanjatkan doa, sekaligus memohon keberkahan bagi desa agar senantiasa diberikan ketenteraman, hasil panen yang melimpah, dan terhindar dari berbagai marabahaya.

Di tengah gelapnya malam, langkah kaki warga yang mengitari batas desa seolah menjadi simbol harapan dan doa yang terus menyala, menjaga Tamanagung tetap teduh dalam balutan tradisi yang tak lekang oleh waktu. (Rony//B5)

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait