JAKARTA, beritalima.com – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak memaparkan berbagai praktik baik pembangunan ketangguhan iklim yang diterapkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam forum internasional Global Gateway Asia-Pacific PFD Regional Meeting: Regional Partnerships for Shared Prosperity (ASPAC) yang berlangsung di Hotel DoubleTree Jakarta, Rabu (3/6).
Dalam paparannya bertajuk Urban and Rural Climate Resilience: Jawa Timur Membangun Ketangguhan Iklim dari Kota hingga Desa, Wagub Emil menegaskan bahwa perubahan iklim telah menjadi salah satu isu strategis pembangunan yang membutuhkan respons komprehensif dan kolaboratif dari seluruh pemangku kepentingan.
Menurutnya, Jawa Timur merespons tantangan tersebut melalui pendekatan pembangunan rendah karbon, penguatan infrastruktur, peningkatan kualitas lingkungan hidup, penguatan ketahanan pangan, hingga pemberdayaan masyarakat desa.
“Ketahanan iklim tidak bisa dibangun secara parsial. Jawa Timur mengembangkan pendekatan yang terintegrasi dari kota hingga desa dengan melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat,” ujar Gubernur Khofifah.
Wagub Emil menjelaskan, komitmen Jatim terhadap pembangunan rendah karbon diwujudkan melalui implementasi Rencana Aksi Daerah Gas Rumah Kaca (RAD-GRK) yang telah diperkuat melalui kaji ulang pada tahun 2017 dan 2022.
Jawa Timur menargetkan penurunan emisi sebesar 19,85 persen pada tahun 2030.
Hasilnya, capaian penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) kumulatif meningkat signifikan dari 13,59 juta ton CO₂e pada tahun 2021 menjadi 21,61 juta ton CO₂e pada tahun 2025.
Indikator penurunan emisi tersebut juga telah diintegrasikan dalam RPJPD 2025–2045 dan RPJMD 2025–2029.
Di kawasan perkotaan, Jawa Timur memperkuat ketahanan iklim melalui pembangunan kota berkelanjutan.
Selain itu, Jawa Timur juga memperkuat pengelolaan sumber daya air melalui pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur pengairan, penguatan sistem drainase, pengembangan penyediaan air minum, serta pengelolaan daerah aliran sungai secara terpadu guna mengurangi risiko banjir, kekeringan, dan bencana hidrometeorologi lainnya.
Pada sektor permukiman, berbagai program diarahkan untuk meningkatkan akses air minum aman, sanitasi layak, penguatan drainase lingkungan, hingga penanganan desa rawan kekeringan guna mengurangi kerentanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim.
Sementara itu, kualitas lingkungan hidup Jawa Timur terus menunjukkan tren positif. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Jawa Timur meningkat dari 68,49 pada tahun 2021 menjadi 73,43 pada tahun 2025.
Capaian tersebut didukung melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat, pengendalian pencemaran air, pelestarian kawasan pesisir dan laut, pengembangan energi terbarukan, serta berbagai program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Wagub Emil juga menyoroti keberhasilan Program Kampung Iklim (ProKlim) yang telah menjadi bagian dari perencanaan pembangunan desa.
Di sektor kehutanan, penguatan ketahanan iklim dilakukan melalui pengelolaan daerah aliran sungai, rehabilitasi vegetasi, konservasi keanekaragaman hayati, serta rehabilitasi mangrove yang berperan penting dalam menjaga kawasan tangkapan air dan mengurangi risiko banjir maupun longsor.
Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Jawa Timur juga memperkuat ketahanan pangan melalui pengendalian bencana pertanian, penyediaan sarana dan prasarana pertanian, serta penguatan penyuluhan untuk menghadapi ancaman kekeringan, banjir, dan cuaca ekstrem.
Di bidang kebencanaan, Wagub Emil menyampaikan bahwa meskipun Jawa Timur masih menghadapi tantangan tingginya kejadian bencana hidrometeorologi, kapasitas daerah dalam menghadapi risiko bencana terus meningkat.
Pemprov Jatim telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak awal Desember 2025 hingga pertengahan Februari 2026 guna mencegah cuaca ekstrem selama musim hujan.
“Indeks Risiko Bencana (IRB) Jawa Timur berhasil turun dari 117,26 pada tahun 2021 menjadi 108,36 pada tahun 2025,” terangnya.
Peningkatan kapasitas tersebut didukung melalui pengembangan Desa Tangguh Bencana, Pesantren Tangguh Bencana, penguatan sistem peringatan dini, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.
Berbagai inovasi seperti layanan pengambilan sampah rumah tangga, budidaya maggot, produksi paving block dari residu sampah, bank sampah, hingga TPS3R berkelanjutan berhasil meningkatkan aset, pendapatan usaha, dan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa.
Menurut Emil, pengalaman Jawa Timur menunjukkan bahwa ketahanan iklim harus dibangun secara menyeluruh dan berkelanjutan, mulai dari perkotaan hingga pedesaan.
“Melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, Jawa Timur akan terus memperkuat fondasi pembangunan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan sebagai kontribusi nyata terhadap agenda pembangunan berkelanjutan global,” pungkasnya.








