Warga Kaliploso Kompak Nguri-uri Budaya, Tradisi Leluhur Jadi Pesona KHC 2026

  • Whatsapp
Foto: Petani tak hanya produsen tapi jadi artis diacara KHC Kaliploso. (Doc, Rony Subhan)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Bagi sebagian warga Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, gelaran Kaliploso Horti Carnival (KHC) bukan hanya tentang kemeriahan karnaval dan pertunjukan seni. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk kembali mengingat dan mengenalkan warisan budaya yang ditinggalkan para leluhur.

Salah satunya dirasakan Karjo, warga Dusun Kalirejo RT 01/RW 08, Desa Kaliploso, yang turut ambil bagian dalam rangkaian KHC. Ia mengaku senang bisa ikut terlibat dalam kegiatan yang menurutnya memiliki nilai budaya dan sejarah yang kuat.

Bacaan Lainnya

Menurut Karjo, tradisi yang diwariskan nenek moyang tidak seharusnya hanya disimpan sebagai cerita masa lalu. Generasi sekarang perlu mengenal, memahami, kemudian ikut menjaga agar tradisi tersebut tetap hidup.

“Saya senang bisa ikut acara ini. Kegiatan seperti ini bagus, karena kita bisa nguri-uri budaya dan tradisi yang sudah diwariskan nenek moyang,” ungkap Karjo.

Baginya, KHC menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk tidak hanya merayakan hari jadi desa, tetapi juga menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat modern.

Terlebih, kegiatan tersebut melibatkan banyak unsur masyarakat. Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menjadi pelaku yang mempersiapkan pertunjukan, menampilkan kesenian hingga meramaikan kegiatan ekonomi di sekitar lokasi acara.

Hal senada disampaikan Enggel, warga Kaliploso lainnya yang ikut terlibat dalam kegiatan. Ia menilai KHC memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan bekerja bersama.

Menurutnya, kegiatan seperti ini memiliki nilai penting karena mampu mempertemukan generasi tua dan generasi muda dalam satu kegiatan. Para orang tua dapat mengenalkan cerita serta tradisi yang pernah dilakukan leluhur, sementara generasi muda mendapat kesempatan untuk mempelajari dan menampilkannya dalam bentuk yang lebih kreatif.

“Yang paling penting bukan hanya meriahnya. Kita bisa berkumpul bersama, gotong royong dan mengenalkan budaya kepada anak-anak muda. Kalau bukan kita yang mengenalkan, nanti siapa lagi,” ujar Enggel.

Ia berharap kegiatan KHC dapat terus dilaksanakan dan setiap tahunnya menghadirkan tema yang berbeda. Dengan begitu, masyarakat memiliki ruang untuk terus menggali sejarah, budaya serta potensi yang dimiliki Desa Kaliploso.

Foto: Warga bersemangat dalam acara nguri nguri budaya Nusantara di KHC Desa Kaliploso. (Doc, Rony Subhan)

Konsep Lahir dari Diskusi Bersama Warga

Sementara itu, Kepala Desa Kaliploso Rudi Hartono mengungkapkan bahwa konsep KHC yang mengangkat tradisi Kirim Leluhur bukanlah gagasan yang lahir begitu saja dari pemerintah desa.

Konsep tersebut, kata Rudi, dibangun melalui proses diskusi bersama masyarakat. Pemerintah desa dan warga saling bertukar gagasan untuk menentukan tema yang dianggap memiliki nilai dan relevan dengan kehidupan masyarakat Kaliploso.

“Konsep ini kita susun bersama warga. Sebelumnya kita saling diskusi, apa yang kira-kira bisa kita angkat, apa yang menjadi potensi desa dan apa yang mempunyai nilai budaya,” terang Rudi.

Dari berbagai pembahasan tersebut, akhirnya dipilih tema Kirim Leluhur. Menurutnya, tema tersebut memiliki makna mendalam karena mengajak masyarakat kembali melihat hubungan antara tradisi, sejarah dan kehidupan sosial warga.

Rudi mengatakan pemerintah desa dalam hal ini lebih berperan sebagai fasilitator. Sementara gagasan, kreativitas dan keterlibatan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan KHC.

“Jadi ini bukan kegiatan pemerintah desa saja. Kita ingin semua masyarakat merasa memiliki. Kita berdiskusi bersama, kemudian kita wujudkan bersama-sama,” ujarnya.

Ia berharap pola kolaborasi tersebut terus dipertahankan. Sebab, menurutnya, sebuah kegiatan desa akan jauh lebih bermakna ketika masyarakat ikut terlibat sejak proses perencanaan hingga pelaksanaannya.

KHC Kaliploso pun akhirnya bukan sekedar sebuah festival. Di dalamnya ada cerita tentang tradisi yang diwariskan leluhur, gotong royong masyarakat, kreativitas generasi muda dan upaya mengangkat potensi desa.

Foto: Warga Desa Kaliploso kompak nguri nguri tradisi leluhur di acara KHC Holtikultura 2026. (Doc, Rony Subhan)

Dari Dusun Kalirejo hingga Plosorejo, masyarakat menunjukkan bahwa menjaga budaya tidak harus dilakukan dengan cara yang kaku. Tradisi bisa dirawat dengan cara yang kreatif, dikemas menjadi pertunjukan, sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan menghidupkan kembali semangat kebersamaan.

Bagi warga Kaliploso, KHC menjadi cara sederhana untuk mengatakan bahwa warisan leluhur boleh berjalan mengikuti zaman, tetapi akar budayanya tetap harus dijaga. (Rony//B5)

beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait