Wisata Heritage Yogyakarta Jadi Sorotan Pengguna Kursi Roda

  • Whatsapp
Wisata Heritage Yogyakarta Jadi Sorotan Pengguna Kursi Roda (foto: istimewa)

Yogyakarta, beritalima.com| – Pengguna kursi roda Ajimanto soroti hambatan aksesibilitas di Taman Sari, Yogyakarta (Kawasan wisata heritage), saat mengikuti tur inklusif bersama tim peneliti Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta akhir Juli lalu. Pengalaman ini menunjukkan, akses wisata heritage bagi difabel masih menghadapi tantangan serius, mulai dari layanan loket tiket hingga akses menuju area inti kompleks bersejarah.

Ajimanto, perwakilan PR Yakkum asal Purworejo, menyebut kursi rodanya berhenti tepat di depan tangga menuju loket tiket Taman Sari. Ia mengaku harus menunggu cukup lama sebelum petugas memberikan respons.

“Lumayan lama itu saya menunggu. Padahal saya sudah di depan loket. Tapi petugasnya tidak segera memberi respons ke saya,” ujar Aji saat ditemui di lokasi. Hambatan tidak berhenti di loket tiket. Saat memasuki kawasan wisata, Aji mengaku tidak dapat mengakses area utama berisi tiga kolam, menara pemantauan, Gedong Sekawan, dan bangunan bersejarah lainnya karena tidak tersedia jalur landai yang memadai bagi pengguna kursi roda.

“Saya bisa ikut kalau yang di area Gapura Agung. Selebihnya masih sulit, apalagi bila tanpa pendorong kursi roda,” kisahnya. Tur inklusif tersebut mengunjungi tiga destinasi heritage yang dikelola Keraton Yogyakarta, yakni Taman Sari, Museum Kedhaton, dan Museum Wahanarata.

Kegiatan itu tidak hanya bertujuan menikmati sejarah, tetapi juga menguji sejauh mana aksesibilitas tersedia bagi wisatawan difabel sejak pembelian tiket hingga mengakses ruang dan koleksi museum. Temuan dari tur ini penting karena menunjukkan, aksesibilitas bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan bagian dari hak warga negara untuk menikmati ruang publik dan warisan budaya secara setara.

Bagi masyarakat luas, hasil evaluasi seperti ini dapat menjadi dasar perbaikan layanan wisata agar lebih ramah bagi lansia, ibu hamil, pengguna kursi roda, maupun pengunjung dengan kebutuhan khusus lainnya.

Tantangan berbeda dialami Oki, peserta difabel Tuli dari Gerkatin. Ia mengaku kesulitan memahami sebagian informasi sejarah karena keterbatasan informasi tertulis di lokasi wisata. Meski demikian, Oki menyebut salah satu petugas mampu menggunakan bahasa isyarat dasar sehingga komunikasi dapat berlangsung lebih baik. “Dengan komunikasi isyarat dasar, bapak itu membantu saya menjelaskan beberapa hal terkait objek yang ingin saya ketahui lebih lanjut,” katanya.

Supervisor Obyek Wisata Tamansari Muhammad Ridwan Syam mengakui, pengelola sebenarnya pernah berupaya menghadirkan fasilitas fisik yang lebih aksesibel. Namun, upaya tersebut terbentur aturan pelestarian karena Taman Sari berstatus kawasan cagar budaya.

“Karena ada aturan yang mengikat, perubahan bangunan tidak dapat kami lakukan sembarangan,” ucap Ridwan. Penjelasan tersebut menunjukkan dilema sering dihadapi pengelola situs bersejarah, yaitu menjaga keaslian bangunan sekaligus memenuhi kebutuhan aksesibilitas modern. Dalam praktik internasional, banyak situs heritage menggunakan solusi yang tidak merusak struktur asli, seperti ramp portabel, jalur sementara, peta taktil, audio deskripsi, dan teknologi digital interaktif.

Peserta tur juga menilai sebagian besar informasi koleksi museum masih bergantung pada penjelasan pemandu. Bagi pengunjung difabel yang datang secara mandiri, kebutuhan akan audio deskripsi, informasi braille, teks visual yang lebih lengkap, dan media interaktif, masih belum tersedia.

Hal ini menjadi pelajaran penting, wisata inklusif tak selalu harus dimulai dari renovasi besar. Pelatihan petugas, penyediaan informasi alternatif, penggunaan bahasa isyarat dasar, serta penambahan media digital dapat menjadi langkah awal yang relatif lebih mudah diterapkan tanpa mengubah struktur cagar budaya.

Bagi masyarakat sehari-hari, keberadaan fasilitas aksesibel sebenarnya memberikan manfaat yang lebih luas. Jalur landai memudahkan orang tua dan pengguna kursi roda atau Stoler, informasi audio membantu pengunjung dengan keterbatasan penglihatan, sementara penjelasan visual yang jelas membuat pengalaman wisata lebih nyaman bagi semua pengunjung.

Uji akses wisata heritage di Yogyakarta ini membuktikan, pelestarian budaya dan aksesibilitas tidak seharusnya dipertentangkan. Dengan perencanaan yang tepat, keduanya dapat berjalan berdampingan sehingga warisan sejarah tetap terjaga sekaligus dapat dinikmati secara setara oleh seluruh lapisan masyarakat.

Jurnalis: abdul hadi/abri

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait