AI Masuk Ruang Redaksi, DPR: Jurnalis Tetap Penjaga Nurani Informasi

  • Whatsapp
Anggota DPR Hetifah: Meski AI masuk rang Redaksi, peran jurnalis tetap penjaga nurani informasi (foto: istimewa)

Jakarta, beritalima.com|- Di tengah gelombang revolusi teknologi, kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kian merangsek ruang redaksi media. Namun, Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian mengingatkan, AI seharusnya ditempatkan hanya sebagai co-pilot—alat bantu bagi jurnalis—bukan pengganti peran manusia dalam menentukan arah pemberitaan.

Hal itu disampaikan Hetifah saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi bertajuk “Smart Journalism: Integrasi Data, Riset, dan Kecerdasan Buatan untuk Pemberitaan Berkualitas” digelar bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jakarta (15/3).

Menurutnya, perkembangan AI saat ini bukan lagi sekadar eksperimen teknologi, melainkan telah menjadi pintu masuk yang mulai menggeser peran tradisional media massa. Perubahan tersebut terlihat dari cara informasi diproduksi hingga dikonsumsi masyarakat.

Dari survei di Asia Tenggara, sekitar 95 persen jurnalis sudah familiar dengan teknologi AI. Meski demikian, Hetifah menyebut keputusan editorial, verifikasi fakta, serta pertimbangan etika tetap harus berada sepenuhnya di tangan jurnalis manusia.

“AI bisa membantu mempercepat kerja redaksi, tetapi keputusan editorial dan tanggung jawab moral tidak bisa diserahkan kepada algoritma,” ujar politisi dari Partai Golkar tersebut.

Ia mengungkapkan, perubahan ekosistem media juga dipicu oleh perilaku generasi muda. Data menunjukkan lebih dari 70 persen Generasi Z kini mulai menggunakan AI sebagai sarana mencari informasi.

Fenomena ini menandakan media tidak lagi bersaing hanya dengan sesama media, tetapi juga dengan teknologi yang mampu menyajikan informasi secara instan.

Di sisi lain, Hetifah melihat AI membawa peluang besar bagi efisiensi kerja jurnalistik. Teknologi ini mampu melakukan berbagai tugas berat yang sebelumnya memakan waktu lama, seperti menganalisis ribuan dokumen, melakukan transkripsi wawancara, hingga mengolah data publik dalam hitungan detik.

Integrasi teknologi tersebut melahirkan konsep smart journalism, yakni praktik jurnalistik yang memadukan riset mendalam, analisis data, dan kecerdasan buatan. Dengan pendekatan ini, jurnalis diharapkan tidak sekadar melaporkan peristiwa, tetapi juga mampu menerjemahkan informasi kompleks menjadi pengetahuan yang mudah dipahami publik.

Namun, di balik efisiensi tersebut, ancaman baru muncul. Hetifah mengingatkan potensi penyalahgunaan teknologi AI, terutama dalam bentuk disinformasi dan konten manipulatif seperti deepfake—audio maupun video palsu yang dibuat sangat realistis.

Menurutnya, teknologi semacam itu berpotensi digunakan untuk menipu publik atau memanipulasi opini, terutama di era arus informasi digital yang serba cepat.

“Perlombaan menjadi yang tercepat sering kali membuat media tergoda mengorbankan akurasi. Padahal, akurasi adalah pilar utama jurnalistik,” tegas Hetifah.

Jurnalis: rendy/abri

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait