Akademisi Jepang Tertarik Usaha Susu Sapi di Dusun Brau

  • Whatsapp
Akademisi Jepang tertarik usaha Susu Sapi di Dusun Brau (foto: istimewa)

Batu, beritalima.com|- Sebanyak 45 orang dari akademisi Jepang tertarik dan kunjungi sebuah usaha susu Sapi di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Batu (Jawa Timur). Di dusun yang terletak di perbatasan kota Batu dan Malang ini, terdapat sebuah koperasi Bernama Markobar Mandiri, dipimpin Munir.

Dulunya, daerah ini tergolong IDT atau Inpres Desa Tertinggal (IDT). Namun, saat ini sudah berubah drastic dengan usaha susu sapi yang bahkan berkembang menjadi obyek wisata. Sosok Munir menjadi salah satu inspritatornya.

Munir bukan sekadar peternak sapi perah. Ia adalah Ketua Koperasi Markobar Mandiri, kelola penyetoran susu dari warga. Rumahnya menyatu dengan penampungan susu koperasi. Setiap pagi, puluhan peternak datang membawa jerigen berisi susu segar hasil pemerahan. Dan di situlah, Munir memastikan kualitas susu tetap terjaga kualitasnya untuk dijual ke beberapa jaringan bisnisnya.

“Alhamdulillah, beliau-beliau juga mengapresiasi tempat kami. Karena apa? Di daerah yang terpencil, di sebuah lembah di pegunungan ini, ternyata menyimpan sebuah potensi usaha yang bisa menaungi masyarakat secara luas. Sesuai dengan budaya yang ada di sini,” kisah Munir saat melayani tamunya dari negeri Sakura.

Munir mengakui, warga di tempatnya ia tinggal, “masyarakat itu hampir 99% bergerak dan usaha dalam peternakan sapi perah. Dalam hal ini, produksi susu.” Ini yang membuat para akademisi Jepang kepincut untuk tahu lebih jauh dari kemajuan bisnis susu sapi di Dusun Brau.

“Mereka sempat melihat ke tempat penampungan susu yang ada di kami. Melihat bagaimana proses menyalakan susu. Dimulai dari cara penerimaan susu sesuai dengan SIP (Surat Izin Prinsip)-nya,” jelas Munir. SIP yang dimaksud terkait dengan Sanitasi dan Higiene, standar ketat diterapkan Munir di koperasinya.

“Suhu susu dari peternak itu rata-rata 32 derajat, 33 derajat. Nah, harus segera masuk. Disitu ada proses pendingin,” paparnya kepada para dose nasal Universitas Suka (Universitas Pertanian Tokyo) dan lembaga penelitian pemeliharaan Jepang. Semua penjelasan Munir dicatat, direkam. Seringkali mereka bertanya ke Munir.

Tapi yang menarik bagi Munir bukanlah soal diskusinya. “Mereka ada mencoba produk. Alhamdulillah, beliau-beliau tadi juga sempat memverifikasi produk susu dari kami, yaitu susu pasteurisasi. Katanya, susunya enak,” ucap Munir.

Harapannya kedepan bagi Munir, ada kerjasama lebih lanjut untuk pengembangan bisnis susunya, yang dengan sendirinya membuat daerah pegunungan di Jawa Timur ini kian dikenal hingga ke internasional.

Dari Koperasi Markobar Mandiri yang dinahkodai Munir, Dusun Brau kini berkembang. Tidak hanya sekedar bertahan, namun tumbuh menjadi sentra produksi susu yang memenuhi kebutuhan kabupaten dan luar kota. “Kami punya anggota 100-an. Total produksi 10 ribu liter per hari, dari wilayah Brau dan sekitarnya,” ungkap Munir.

Jurnalis: abri/dedy

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com

Pos terkait