AS dan Israel Serang Iran, Dunia Bereaksi

  • Whatsapp
AS dan Israel serang Iran, Dunia bereaksi (foto: reuters/wana)

Jakarta, beritalima.com| – Serangan udara dilakukan Amerika Serikat (AS) bersama Israel ke ibukota Iran, Teheran pada Sabtu pagi di bulan Suci Ramadan (28/2). Langsung dunia bereaksi, mulai dari yang mengatakan agar semua pihak menahan diri, mengutuk keras agresi kedua negara tersebut hingga menekan Iran agar tak menyerang negara tetangga di Timur Tengah.

Masyarakat AS sendiri, tak sedikit yang menentang kebijakan Presiden Donald Trump untuk melakukan agresi militer ke negara lain sementara di dalam negeri banyak sekali pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Dunia menjadi saksi, ketika perwakilan AS dan Iran sedang berunding serius di Swis, justru pihak AS melakukan serangan. Bersandar pada piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pasal 51, Iran  menyatakan berhak membela diri karena kedaulatannya dirusak dan diancam. Iran langsung menyerah sejumlah pangakalan militer AS di Timur Tengah, seperti ditempatkan di Qatar, Bahrain, dan Kuwait.

Dalam Siaran Pers Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia dikirim ke beritalima dikatakan (28/2), “dengan merujuk pada berbagai pelanggaran berat terhadap Piagam PBB, hukum internasional, hak asasi manusia, dan hukum humaniter internasional yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis selama beberapa dekade terakhir, khususnya dalam beberapa tahun terakhir, dengan tegas mengecam tindakan agresif dan kriminal tersebut terhadap integritas teritorial Iran, serta memandang tindakan Washington dan Tel Aviv sebagai ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan regional maupun internasional.”

Dan, tambahnya, “Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia berharap agar Pemerintah dan rakyat Indonesia, para tokoh politik, organisasi keagamaan dan Islam, kalangan akademisi, serta insan media untuk secara tegas dan terbuka mengecam dimulainya perang dan agresi terhadap wilayah Republik Islam Iran.”

Berikut beberapa pernyataan internasional atau sikap kelompok/negara terkait Perang AS-Israel versus Iran

Hizbullah

Hizbullah Lebanon mengutuk serangan AS-Israel sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa”, dengan mengatakan bahwa itu adalah upaya untuk menggoyahkan kawasan dan memaksa rakyatnya “untuk menerima skema dominasi dan pendudukan”.

Perserikatan Bangsa-Bangsa

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk “eskalasi militer” dan menyerukan “penghentian permusuhan segera” dan akan melakukan pertemuan darurat. “Penggunaan kekuatan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, dan pembalasan selanjutnya oleh Iran di seluruh kawasan, merusak perdamaian dan keamanan internasional,” katanya, memperingatkan risiko konflik regional yang lebih luas dengan “konsekuensi serius bagi warga sipil dan stabilitas regional”.

Uni Eropa

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menyatakan “sangat mengkhawatirkan” dan mendesak semua pihak “untuk menahan diri semaksimal mungkin, melindungi warga sipil, dan sepenuhnya menghormati hukum internasional”.

Palang Merah

Mirjana Spoljaric, presiden Komite Internasional Palang Merah, menyerukan kepada negara-negara untuk menghormati aturan perang dan mendesak mereka untuk menemukan kemauan politik untuk mencegah “kematian dan kehancuran lebih lanjut”.

Ia memperingatkan bahwa “reaksi berantai berbahaya” dari eskalasi militer sedang berlangsung di seluruh Timur Tengah, “dengan konsekuensi yang berpotensi menghancurkan bagi warga sipil”.

Oman

Mediator utama dalam negosiasi AS-Iran yang sedang berlangsung, merasa kecewaa atas pecahnya kekerasan. Menteri Luar Negeri Badr Albusaidi mengatakan konflik tersebut tidak akan menguntungkan kepentingan AS, maupun kepentingan perdamaian global, dan mendesak Washington “untuk tidak terseret lebih jauh”.

Jerman, Prancis, Inggris

Dalam pernyataan bersama, perdana menteri ketiga negara tersebut mengatakan “mengutuk serangan Iran terhadap negara-negara di kawasan itu dengan sekeras-kerasnya” dan tetap berkomitmen “pada stabilitas regional dan perlindungan kehidupan sipil.” Mereka juga mengatakan bahwa mereka menginginkan dimulainya kembali negosiasi AS-Iran.

Secara terpisah, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan pertemuan mendesak Dewan Keamanan PBB, dengan mengatakan bahwa konflik tersebut membawa “konsekuensi serius” bagi perdamaian dan keamanan internasional. “Eskalasi saat ini berbahaya bagi semua orang. Ini harus dihentikan.”

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyebut, “Iran bisa mengakhiri ini sekarang,” katanya, seraya menyerukan mereka untuk “menghentikan program persenjataan mereka, dan menghentikan kekerasan dan penindasan yang mengerikan terhadap rakyat Iran.”

Qatar

Kementerian Luar Negeri mengutuk keras Iran karena menembakkan rudal ke wilayah Qatar, yang merupakan lokasi Pangkalan Udara Al Udeid yang menampung pasukan AS. Serangan itu sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan nasional Qatar dan serangan langsung terhadap keamanannya. Ditambahkan bahwa Qatar berhak untuk membalas, sesuai dengan hukum internasional.

Uni Emirat Arab

Kementerian Pertahanan mengutuk dengan “keras” serangan Iran terhadap wilayahnya, beberapa di antaranya dikatakan telah dicegat oleh pertahanan udaranya. Mereka menyebut serangan itu sebagai “eskalasi berbahaya dan tindakan pengecut yang mengancam keamanan dan keselamatan warga sipil”, menekankan bahwa UEA memiliki “hak penuh” untuk membalas.

Bahrain

Bahrain mengkonfirmasi bahwa serangan rudal Iran menargetkan markas besar Armada ke-5 Angkatan Laut AS yang ditampungnya, dan menyebut serangan itu “pengkhianatan”.

Kuwait

Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam serangan Iran di wilayahnya sebagai “pelanggaran mencolok” terhadap hukum internasional dan mengatakan bahwa mereka berhak untuk membalas. Mereka memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut hanya akan memperdalam ketidakstabilan regional.

Arab Saudi

Arab Saudi mengutuk “dengan sekeras-kerasnya” serangan Iran terhadap negara-negara Teluk Arab dan memperingatkan “konsekuensi yang mengerikan”.

Turki

Kementerian Luar Negeri Turki menyerukan “semua pihak” mengakhiri spiral kekerasan, yang menurut mereka dimulai dengan serangan AS-Israel terhadap Iran. “Peristiwa yang dimulai dengan Israel dan AS menyerang Iran, dan berlanjut dengan Iran menargetkan negara-negara ketiga, bersifat membahayakan masa depan kawasan kita dan stabilitas global,” kata kementerian tersebut.

Pakistan

Menteri Luar Negeri Ishaq Dar “mengutuk keras serangan yang tidak beralasan terhadap Iran dan menyerukan penghentian segera eskalasi melalui dimulainya kembali diplomasi secara mendesak untuk mencapai resolusi damai dan melalui negosiasi terhadap krisis tersebut”.

Rusia

Dmitry Medvedev, wakil ketua Dewan Keamanan Rusia, menuduh AS telah menggunakan pembicaraan nuklir dengan Iran sebagai kedok sebelum operasi militer. Kementerian Luar Negeri negara itu mendesak komunitas internasional untuk segera memberikan penilaian objektif atas apa yang disebutnya sebagai tindakan tidak bertanggung jawab yang berisiko semakin menggoyahkan stabilitas kawasan.

China

Kementerian Luar Negeri mendesak “penghentian segera aksi militer” dan menyerukan “dimulainya kembali dialog dan negosiasi” untuk menjaga perdamaian dan stabilitas regional. Kementerian menekankan bahwa “kedaulatan nasional, keamanan, dan integritas teritorial Iran harus dihormati.”

India

Kementerian Luar Negeri menyerukan kepada semua pihak untuk “menahan diri” dan “menghindari eskalasi”. Dikatakan bahwa “dialog dan diplomasi harus diupayakan” dan bahwa “kedaulatan dan integritas teritorial semua negara harus dihormati.” Pernyataan itu muncul beberapa hari setelah Perdana Menteri India Narendra Modi melakukan perjalanan ke Israel dan memuji kemitraan “penting” mereka.

Ukraina

Kementerian Luar Negeri menuduh Iran bertanggung jawab atas rangkaian peristiwa yang menyebabkan konflik, termasuk penindasan terhadap protes awal tahun ini. “Penyebab peristiwa saat ini adalah kekerasan dan impunitas rezim Iran, khususnya pembunuhan dan penindasan terhadap demonstran damai, yang telah menjadi sangat meluas dalam beberapa bulan terakhir,” kata Kementerian Luar Negeri.

Norwegia

Menteri Luar Negeri Espen Barth mengatakan serangan awal Israel terhadap Iran melanggar standar hukum internasional. “Serangan itu digambarkan oleh Israel sebagai serangan pencegahan, tetapi tidak sesuai dengan hukum internasional,” kata Barth. “Serangan pencegahan membutuhkan ancaman yang segera terjadi.”

Belgia

Menteri Luar Negeri Maxime Prevot mengatakan rakyat Iran “tidak boleh membayar harga atas pilihan pemerintah mereka. Kami sangat menyesalkan bahwa upaya diplomatik tidak dapat menghasilkan solusi yang dinegosiasikan lebih awal.”

Kanada

Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan negara itu mendukung rakyat Iran dan “menegaskan kembali hak Israel untuk membela diri dan memastikan keamanan rakyatnya.” Ia mengatakan Kanada mendukung AS “bertindak untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir”.

Irlandia

Perdana Menteri Irlandia, Michael Martin, mendesak semua pihak untuk “menahan diri” guna menghindari eskalasi dan konflik yang lebih luas. “Perlindungan kehidupan sipil di Iran, di Israel, dan di semua negara tetangga sekarang harus menjadi prioritas utama,” jelasnya.

Jurnalis: abri/rendy

beritalima.com

Pos terkait