Bekasi, beritalima.com|- Di Kampung Sawah, Bekasi (Jawa Barat), ada sebuah tempat sederhana menyimpan cerita besar, yakni Assyfa Centre, menghadirkan cahaya kitab suci Al Quran Braille di hati sahabat Tunanetra.
Lembaga ini didirikan oleh H. Bahrudin, yang turut peduli melihat sahabat Tunanetra ingin memiliki kemampuan membaca dan memahami makna Al Quran.
“Dulu, Al-Qur’an Braille sangat mahal dan sulit didapat. Sekarang sudah lebih mudah, tapi tempat belajar yang konsisten justru minim. Kebanyakan hanya musiman, bergantung proyek. Ketika proyek selesai, berhenti pula kegiatannya. Dari situlah kami terpanggil untuk mendampingi mereka secara berkelanjutan,” kisahnya kepada Abdul Hadi disabilitas netra, wartawan beritalima (31/1).
Belajar Al-Qur’an bagi tunanetra bukan perkara mudah. Selain teknis membaca Braille perlu ketrampilan khusus, serta tantangan komunikasi lintas latar belakang.
“Ada santri yang sensitif, ada yang mudah salah paham. Kami tidak menginterogasi, kami mengobrol. Kadang lewat teman satu suku agar lebih nyaman,” jelas Bahrudin.
Meski Al-Qur’an Braille kini lebih mudah diakses, kesalahan cetak huruf dan ayat masih sering ditemukan. Di Assyfa Centre, santri saling mengingatkan dan mengoreksi satu sama lain. Seperti pesan Surat Al-Asr dalam Al Quran yang pesannya adalah saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Menariknya, Assyfa Centre tumbuh tanpa sokongan pemerintah alias mandiri. “Kami belum pernah melibatkan pemerintah, kecuali saat mendirikan yayasan. Kegiatan ini berjalan karena keberkahan Al-Qur’an. Ini urusan berniaga dengan Allah,” tegas Bahrudin.
Strategi kedepan lembaga ini mencetak kader dari berbagai daerah. Para netra dibekali metode pengajaran dan tanggung jawab dakwah. Bahkan santri yang telah hafal juz 30, kini menjadi penguji bagi teman-temannya. Cara ini bukan hanya melatih hafalan, tapi juga menumbuhkan rasa percaya diri.
Bahrudin bercerita tentang seorang santri, setelah mengikuti program kaderisasi, justru meminta dicarikan orang awas untuk belajar bersama. Alasannya sederhana, ingin tantangan dan wawasan baru. Dari sini kita belajar, soal keterbatasan bukan penghalang untuk tumbuh.
Namun, pertanyaan publik menggelitik, di mana posisi negara mendukung literasi Qur’an Braille? Mengapa distribusi cetakan belum terstandar? Mengapa pembinaan tunanetra masih bergantung pada inisiatif pribadi?
Mengatasi tantangan tersebut, tampaknya Pemerintah perlu bentuk tim verifikasi cetakan Qur’an Braille bersama komunitas tunanetra. Sehingga program kaderisasi seperti Assyfa Centre mendapat dukungan berkelanjutan, bukan insidental. Dan, literasi Al Quran Braille masuk dalam kebijakan pendidikan inklusif nasional.
Bahrudin berpesan, “perjalanan kami masih panjang. Semoga kelak ada yang melanjutkan perjuangan ini ketika kami berpulang. Ini wakaf kami. Ayolah ikut berwakaf bersama kami—dengan harta, ilmu, atau apapun yang bernilai baik.”
Jurnalis: abdul hadi/abri








