Jakarta, beritalima.com|- Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Pamulang, Tangerang Selatan, Banten (24/1). Kunjungan ini tak sekadar melihat fasilitas fisik rumah sakit yang masih baru dan bersih, tapi juga menjadi evaluasi terhadap kesiapan sumber daya manusia kesehatan, khususnya dokter spesialis dan subspesialis, dinilainya masih persoalan krusial dalam kesehatan perkotaan.
Anggota BURT DPR RI, Irma Suryani, menegaskan bahwa rumah sakit ideal harus mampu menangani seluruh spektrum penyakit—baik menular maupun tidak menular—secara komprehensif. Menurutnya, kelengkapan dokter spesialis, subspesialis, alat kesehatan, serta ketersediaan obat-obatan merupakan syarat dasar agar akses pelayanan kesehatan masyarakat benar-benar terpenuhi.
“Kalau rumah sakit spesialisnya belum lengkap, apalagi subspesialis, maka kebutuhan akses pelayanan kesehatan masyarakat tidak tercukupi secara maksimal. Ini harus menjadi perhatian serius,” kata Irma saat ditemui di sela kunjungan.
Irma menyoroti masih banyaknya keluhan masyarakat terkait keterbatasan tenaga medis, berujung pada antrean panjang atau rujukan berlapis ke rumah sakit lain. Kondisi tersebut, menurutnya, bukan hanya menurunkan kualitas layanan, tapi juga mendorong sebagian warga memilih berobat ke luar negeri.
Politikus Fraksi NasDem itu menilai rumah sakit di wilayah urban seperti Tangerang Selatan dan Jakarta Selatan semestinya menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan modern. “Rumah sakit harus ditopang tenaga medis berkualitas dan teknologi mutakhir, karena tantangan penyakit ke depan semakin kompleks,” ujarnya.
Selain soal SDM, Irma mengingatkan manajemen rumah sakit agar tidak abai terhadap aspek pemeliharaan fasilitas. Ia menyinggung fenomena umum di Indonesia, di mana gedung rumah sakit terlihat megah di awal, namun dalam beberapa tahun mengalami penurunan kualitas akibat lemahnya pengelolaan perawatan.
“Gedung bagus saja tidak cukup. Biaya pemeliharaan harus dikontrol ketat. Kita sering melihat rumah sakit yang awalnya bagus, tapi kemudian kotor dan kumuh,” kata Irma.
Dalam konteks kebijakan kesehatan nasional, Irma mendorong perubahan paradigma pelayanan kesehatan dari kuratif ke preventif. Ia menilai pencegahan penyakit harus menjadi prioritas agar beban anggaran kesehatan—baik bagi masyarakat maupun negara—tidak terus membengkak.
Terkait program cek kesehatan gratis yang digagas pemerintah, Irma menyampaikan apresiasi, namun menyoroti lemahnya kejelasan tindak lanjut pasca pemeriksaan. Menurutnya, banyak masyarakat masih bingung apakah pengobatan lanjutan dari hasil pemeriksaan tersebut dapat ditanggung BPJS Kesehatan.
“Ini pertanyaan paling sering muncul di masyarakat. Kalau setelah dicek ditemukan penyakit, apakah pengobatannya dicover BPJS? Ketidakjelasan ini membuat masyarakat ragu memanfaatkan program,” ungkapnya
Jurnalis: rendy/abri








