Banjir Aceh Utara: Ribu Warga Mengungsi

  • Whatsapp
Aceh, Beritalima.com(  Banjir besar kembali melanda Kabupaten Aceh Utara setelah wilayah tersebut diguyur hujan deras selama beberapa hari terakhir. Derasnya intensitas hujan membuat sejumlah kecamatan terendam, memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka.
Kecamatan Tanah Jambo Aye, Seunuddon, Baktiya, Muara Batu, Langkahan, Syamtalira Aron, hingga Lhoksukon menjadi wilayah yang mengalami dampak terparah. Daerah-daerah ini memang dikenal rawan banjir karena topografi rendah dan kedekatannya dengan aliran sungai besar.
Pemerintah daerah melaporkan bahwa total warga terdampak mencapai 46.830 jiwa, dengan 44.350 jiwa di antaranya harus mengungsi akibat rumah mereka terendam banjir setinggi puluhan sentimeter hingga lebih dari satu meter.
Para pengungsi kini tersebar di 35 lokasi pos penampungan, termasuk meunasah, sekolah, dan gedung-gedung publik. Petugas gabungan bersama relawan terus mendirikan tenda tambahan untuk mengatasi lonjakan jumlah pengungsi.
Kondisi di pengungsian terbilang memprihatinkan, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, lansia, serta penyandang disabilitas. Banyak dari mereka terpaksa mengungsi hanya dengan membawa pakaian seadanya.
Pemerintah daerah 28-11-2025 telah menyalurkan bantuan awal berupa makanan siap saji, perlengkapan bayi, selimut, serta layanan kesehatan darurat. Namun sejumlah pengungsi menyampaikan bahwa bantuan masih terbatas dan tidak sebanding dengan jumlah kebutuhan di lapangan.
Selain menelan korban pengungsian dalam jumlah besar, banjir turut menyebabkan kerusakan fisik yang serius. Sedikitnya 130 rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan ringan hingga berat akibat tingginya debit air dan derasnya arus.
Di beberapa titik, sembilan tanggul sungai dilaporkan jebol, membuat air meluap dan membanjiri permukiman dalam waktu singkat. Tidak hanya itu, satu jembatan di kawasan Krueng Sawang ikut rusak sehingga menghambat akses antarwilayah.
Banjir juga berdampak besar pada sektor pertanian dan perikanan. Sebanyak 699 hektare sawah terendam air dan terancam gagal panen, sementara 571 hektare tambak ikut rusak, menyebabkan petani dan nelayan mengalami kerugian ekonomi yang tidak sedikit.
Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada kedua sektor tersebut, bencana ini menjadi ancaman serius terhadap keberlangsungan ekonomi keluarga. Mereka berharap pemerintah memberikan bantuan lanjutan untuk pemulihan pascabencana.
Melihat kondisi yang terus memburuk, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara resmi menetapkan status tanggap darurat banjir selama 14 hari, terhitung sejak 25 November hingga 8 Desember 2025. Status ini ditetapkan sebagai dasar percepatan penanganan bencana di seluruh wilayah terdampak.
Dengan diberlakukannya status tanggap darurat, pemerintah dapat mengerahkan sumber daya secara maksimal, mulai dari distribusi logistik, evakuasi warga, hingga perbaikan darurat infrastruktur. Masyarakat juga diminta tetap waspada karena potensi curah hujan tinggi masih diperkirakan terjadi dalam beberapa hari mendatang.
,(A79)
beritalima.com
beritalima.com

Pos terkait