Jakarta, beritalima.coma|- Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi akan tetap stabil hingga akhir tahun ini, meski harga minyak dunia terus meningkat akibat eskalasi konflik AS-Israel melawan Iran.
Namun, ia tidak dapat memprediksi atau memberikan jaminan terkait harga BBM non-subsidi, karena komoditas tersebut tidak mendapat keringanan harga dari pemerintah.
“Kami siap menjaga harga BBM bersubsidi sampai akhir tahun, dengan asumsi harga minyak rata-rata US$100 per barel,” kata Purbaya kepadan awak media di Nusantara I, Senayan, Jakarta (6/4).
Pihaknya telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi dan menghitung ketahanan APBN terhadap potensi kenaikan harga minyak, baik menjadi US$80 maupun US$100 per barel.
“BBM bersubsidi sampai akhir tahun aman. Masyarakat tidak perlu khawatir, anggaran subsidi masih cukup,” tambahnya.
Selain APBN, pemerintah juga memiliki sumber dana lain untuk menghadapi tekanan harga minyak, seperti Sisa Anggaran Lebih (SAL) senilai Rp420 triliun, termasuk Rp200 triliun yang ditempatkan di perbankan, serta berbagai pos pendapatan lain, termasuk PNBP sektor energi dan sumber daya mineral.
Purbaya menekankan, “Yang penting dananya ada, cushion kita masih tersedia. Menteri ESDM juga menjanjikan pendapatan tambahan dari kenaikan harga minyak dan batubara di pasar dunia.”
Pemerintah juga tengah memangkas anggaran di kementerian dan lembaga yang kurang efisien. Hal ini penting karena setiap kenaikan US$1 per barel akan menambah subsidi Rp6,8 triliun.
“Upaya efisiensi ini sekaligus menjaga defisit APBN tetap di 2,92% tanpa harus memanfaatkan SAL. Kami akan kendalikan pengeluaran dan meningkatkan pendapatan dari beberapa sektor, termasuk komoditas,” ujar Purbaya.
Jurnalis: rendy/abri








