Jakarta, beritalima.com|- Komunitas sosial bergerak di bidang lingkungan hidup, KALIRA (Konservasi Alam dan Lingkungan Indonesia Raya), gelar serangkaian kegiatan untuk budayakan gaya hidup lebih berkualitas, guna memerangi darurat sampah yang melanda Tanah Air.
Dengan aksi nyata menampilkan pameran mengolah sampah menjadi bahan berkualitas untuk dimanfaatkan kembali, serta seminar bertema Zero Waste Lifestyle: Langkah Kecil untuk Perubahan Besar, merupakan bagian dari program besarnya dan berkelanjutan dalam ECO Jamboree 2026, digelar selama tiga hari di Perpustakaan Nasional, Jakarta (4-6/2).
“KALIRA secara konsisten mendorong perubahan melalui berbagai inisiatif, dan melalui Indonesia ECO Jamboree 2026 kami mengajak masyarakat memulai langkah sederhana menuju zero waste lifestyle. Ini bukan lagi sekadar tren, melainkan aksi nyata yang perlu segera dilakukan untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup,” ujar Waskita Rini, Ketua KALIRA.
Konsep Zero Waste Lifestyle yang ditawarkan ke public, sebenarnya sangat sederhana. Seperti dengan kebiasaan mengurangi sampah melalui lima prinsip dasar, yakni refuse (menolak), reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (mengolah kembali), dan rot (mengompos).
Pendekatan ini menekankan perubahan kebiasaan sehari-hari, mulai dari menolak produk yang tidak diperlukan, mengurangi konsumsi, menggunakan kembali barang, mendaur ulang material, hingga mengompos limbah organik, sebagai upaya sederhana namun berdampak nyata dalam menjaga lingkungan.
Menurut Rini, “permasalahan sampah di Indonesia semakin mengkhawatirkan, bukan hanya karena pertumbuhan penduduk. Tapi juga masih rendahnya kesadaran terhadap dampaknya bagi lingkungan dan masa depan.”
Peneliti Ahli Utama Bidang Persampahan, Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Sri Wahyono di forum KALIRA mengutarakan, “langah sederhana seperti mengolah sampah di rumah merupakan fondasi perubahan besar. Kita berada dalam fase krisis pengelolaan sampah, jika diibaratkan dengan kanker, kita sudah berada di stasiun akhir.”
Tak heran, Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) baru-baru ini menyatakan Indonesia sudah darurat penanganan sampah. Bahkan Walikota Tangerang Selatan sampai mendapat ultimatum dari KLH bila tak dapat menangani sampah di wilayahnya bisa berhadapan dengan jalur hukum (beritalima, 3/12/25).
Sementara Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia Ibar Furqonul Akbar menekankan, “audit merek yang kami lakukan menunjukkan kemasan plastik dari puluhan tahun lalu masih bertahan di lingkungan, dengan sampah sachet menjadi persoalan serius di Indonesia dan ASEAN.”
Seminar yang dimoderatori Swary Utami Dewi, pemerhati lingkungan, memang menggugah kesadaran kita untuk mengubah pola pikir dan perilaku secara kolektif, individu, komunitas, hingga pemerintah, agar melakukan langkah nyata membenahi gaya hidup yang lebih berkualitas.
Jadi, penting sekali seperti digarisbawahi Rusman Rusli, penggerak Komunitas KALIRA dan Pengelola Divisi Sosial dan Kemanusiaan, “mengubah mindset itu sulit, dari tidak peduli menjadi peduli. Itu proses panjang. Tapi kalau konsisten, perubahan itu mungkin.”
Jurnalis: abri/dedy








