Jakarta, beritalima.com|- Pemerintah melalui Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan stok beras aman menghadapi ancaman perubahan iklim El Nino.
Menghadapi ancaman El Niño, pemerintah klaim telah menyiapkan langkah antisipatif lebih matang dibanding tahun sebelumnya. Mulai dari pembangunan irigasi, penyebaran 80 ribu pompa air, hingga optimalisasi lahan rawa. “Totalnya 28 juta ton. Kalau kita bagi, itu cukup 10–11 bulan… Artinya aman,” tegas Mentan terkait cadangan pangan nasional saat rapat dengan Komisi IV DPR di Jakarta (7/4).
Meski demikian, klaim stok beras ini tak lepas dari kritik sejumlah pihak. Menanggapi keraguan tersebut, Amran justru menantang untuk pembuktian langsung. “Kami undang dengan hormat datang ke Bulog mengecek langsung,” ujarnya. Ia bahkan menyindir kritik yang datang dari kalangan tertentu, “Mungkin pemahaman tentang pertanian masih perlu lebih banyak lagi,” ucapnya.
Terkait stabilitas harga, pemerintah menyebut beras tak lagi menjadi penyumbang utama inflasi dalam dua tahun terakhir. “Saya ulangi, beras bukan penyumbang inflasi dua tahun. Artinya apa? Beras kita cukup,” kata Amran. Untuk menjaga harga tetap stabil, pemerintah menyiapkan program bantuan pangan, operasi pasar, serta pembangunan gudang logistik di daerah defisit.
Tantangan di tingkat daerah masih menjadi sorotan. Menanggapi lambannya pemulihan sektor pertanian di Aceh, pemerintah pusat menyampaikan anggaran telah disalurkan. “Uangnya sudah turun di dinas. Jangan lagi salahkan di pusat,” cetus Amran. Pernyataan ini menegaskan efektivitas kebijakan sangat bergantung pada pelaksanaan di daerah, bukan semata pada perencanaan di pusat.
Pemerintah menyoroti langkah strategis di bidang energi berbasis pertanian. Program biofuel B50 diklaim mampu menekan impor solar secara signifikan. “Target dari Bapak Presiden, kita tidak impor solar tahun ini. Itu kita gunakan dari CPO. 5,3 juta ton kita tidak impor solar,” terang Amran..
Menariknya, di tengah pengurangan ekspor CPO, justru terjadi lonjakan ekspor secara keseluruhan. Pemerintah menyebut kondisi geopolitik global menjadi peluang bagi petani.
Jurnalis: rendy/abri








