BANDUNG, beritalima.com | Bank Indonesia menargetkan sistem pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) tahun ini digunakan di 8 negara, melibatkan 45 merchant dengan target 17 miliar transaksi dan 60 juta pengguna.
Ekonom Senior Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Willy Togi mengatakan itu di kegiatan Capasity Building Media Jawa Timur di Bandung, Sabtu (14/3/2026).
“QRIS saat ini sudah bisa digunakan antarnegara di Singapura, Thailand, Malaysia, Jepang, China, UAE, India, Korea Selatan,” ujarnya dalam kegiatan yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur ini diikuti 59 jurnalis Jawa Timur ini.
“Dengan kerjasama ini turis negara mitra membayar menggunakan aplikasi negaranya dengan memindai QRIS di merchant Indonesia, sebaliknya turis Indonesia membayar menggunakan aplikasi pembayaran Indonesia dengan menggunakan QR code pada merchant di negara mitra,” terangnya.
Dengan penggunaan QRIS antarnegara ini, lanjut Willy, masyarakat Indonesia akan lebih mudah bertransaksi di luar negeri tanpa repot menukar mata uang asing. Demikian juga bagi wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia, sistem pembayaran ini akan memudahkan mereka bertransaksi saat di Indonesia.
Menurutnya, layanan ini diproyeksikan dapat menurunkan biaya konversi valuta asing dan biaya transaksi, serta mendukung aktivitas ekonomi seperti perdagangan, pariwisata, dan konsumsi lintas negara.
“Transaksi QR Cross Border menawarkan biaya yang lebih efisien dibandingkan metode lainnya seperti kartu kredit, tarik tunai ATM di luar negeri dan transaksi penukaran uang,” jelasnya.
Seiring dengan perluasan QRIS lintas negara, pelaku usaha di Indonesia didorong untuk semakin siap mengadopsi sistem pembayaran digital yang terstandarisasi. “QRIS tidak hanya berperan sebagai alat pembayaran domestik, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem pembayaran global yang mendukung transaksi lintas negara secara efisien dan aman,” tambahnya.
Disampaikan, pada tahun 2025 transaksi QRIS mencatatkan pertumbuhan mencapai 139,99 persen secara tahunan (yoy). Hingga Desember 2025, pengguna QRIS mencapai 59,53 miliar dari target 58 miliar. Volume transaksi per Desember 2025 mencapai Rp 15,51 miliar. Jumlah merchant mencapai 43,29 juta, dan 95,97% adalah UMKM.
Di tahun 2026 ini BI menargetkan volume transaksi QRIS mencapai 17 miliar transaksi dan 8 negara untuk kerjasama QRIS cross border. Kemudian dari sisi suplai, jumlah pengguna dan merchant ditargetkan mencapai 45 juta yang menerima pembayaran melalui QRIS dan 60 juta pengguna QRIS dari sisi demand.
Dengan meluasnya penggunaan QRIS antarnegara dan QRIS di dalam negeri, transaksi QRIS tumbuh tinggi mencapai 139,99 persen (yoy) pada kuartal IV 2025. Pertumbuhan itu juga dikontribusikan dari penggunaan QRIS TAP yang semakin bertambah, terutama di 5 moda transportasi Jabodetabek dan 26 angkutan daerah.
Pada kuartal IV 2025, transaksi QRIS TAP mencapai lebih dari 1,44 juta transaksi dengan nominal Rp 28 miliar. Layanan QRIS Tap In-Tap Out kian marak digunakan masyarakat. “Fitur ini sengaja diluncurkan untuk mendorong transaksi non tunai yang lebih efisien di Indonesia,” kata Willy.
Sistem transaksi digital QRIS yang memanfaatkan mekanisme Near Field Communication (NFC) telah digunakan untuk transaksi sebanyak 508 ribu kali, atau tumbuh 1.200% secara bulanan.
Hingga kini layanan QRIS yang cukup menempelkan smartphone ke mesin pemindai untuk menyelesaikan transaksi, tanpa perlu memindai QR code secara manual itu telah digunakan di 14 provinsi.
Dengan maraknya pemanfaatan layanan transaksi QRIS terbaru itu, BI akan terus mendorong pengembangan perluasan layanan dari yang hanya bisa digunakan ponsel berbasis Android menjadi IOS. (Gan)
Teks Foto: Willy Togi bersama 2 jurnalis yang naik panggung di Capasity Building Media Jawa Timur 2026 di Bandung, Sabtu (14/3/2026)








