TULUNGAGUNG, beritalima.com- Bupati Tulungagung, H. Gatut Sunu Wibowo, SE ME, menerima penghargaan atas penetapan Jaranan Senterewe sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Penyerahan penghargaan penetapan WBTB dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, di Taman Krida Budaya Kota Malang, Minggu (22/02/2026) kemarin.
Turut hadir dalam acara tersebut, Kepala Disbudpar Tulungagung, Muhammad Ardian Candra, serta sejumlah tokoh budaya dan seniman.
Pengakuan dari Pemerintah ini bukan sekadar simbol, melainkan bukti bahwa kesenian tradisional yang lahir di Tulungagung tahun 1958 memiliki nilai historis, filosofis, dan sosial yang tinggi.
Jaranan Senterewe Tulungagung dikenal sebagai seni pertunjukan komplit yang memadukan gerak tari, musik gamelan, serta simbol keberanian dan harmoni masyarakat.
Atas penghargaan tersebut, Bupati Gatut Sunu menyampaikan rasa syukur dan bangga Jaranan Senterewe sebagai WBTB.
“Alhamdulillah hari ini menjadi kebanggaan bagi Pemerintah Kabupaten Tulungagung. Jaranan Senterewe bukan sekadar hiburan, tapi simbol semangat, keberanian, dan harmoni masyarakat Tulungagung,” ujarnya.
Bupati berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian dan regenerasi pelaku seni agar warisan budaya ini tetap hidup dan dikenal di kancah nasional.
“Kami akan terus mendukung pelestarian dan regenerasi pelaku seni di Kabupaten Tulungagung untuk terus berkreasi,” ucapnya.
Kehadiran Gubernur Jawa Timur bersama jajaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menegaskan bahwa pelestarian budaya daerah adalah bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Disbudpar Jawa Timur, Evy Afianasari, menambahkan, penetapan WBTB menjadi langkah strategis untuk memperkuat identitas lokal sekaligus membuka peluang pengembangan pariwisata berbasis budaya.
Secara edukatif, penetapan Jaranan Senterewe sebagai WBTB mengingatkan masyarakat bahwa warisan budaya bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga aset masa depan.
“Pelestarian seni tradisional berarti menjaga jati diri bangsa sekaligus memberi ruang bagi generasi muda untuk belajar, berkreasi, dan berbangga atas akar budayanya,” ungkapnya.
Momentum ini, lanjutnya, diharapkan menjadi titik tolak bagi masyarakat Tulungagung untuk semakin mencintai dan melestarikan seni tradisi, menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar pertunjukan seremonial.
“Dengan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, Jaranan Senterewe kini berdiri sejajar dengan kesenian tradisional lain yang telah diakui secara nasional,” terangnya.
“Lebih dari itu, penghargaan ini menjadi pengingat bahwa budaya adalah kekuatan yang menyatukan, menguatkan identitas, dan membawa kebanggaan bagi daerah,” pungkasnya. (Dst/editor Dibyo).







