Jakarta, beritalima.com|- Siapa bilang dunia audio engineering hanya milik mereka yang bisa melihat? Rino Jefriansyah, seorang editor audio difabel netra, membuktikan, gelombang suara bisa diramu menjadi karya tanpa bergantung pada visual. Dengan perangkat lunak Reaper dan skrip tambahan bernama Osara, ia berkreasi soal keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya.
REAPER (rapid environment for audio production,engineering and recording) merupakan sistem audio digital (digital work station) multiguna untuk merekam, edit, mencampur, dan memproses suara, lalu bisa dihubungkan ke windows, macOS serta linux.
Reaper dikenal ramah bagi pengguna pembaca layar seperti NVDA dan JAWS. Kehadiran Osara membuat proses editing lebih mudah, karena informasi posisi track, durasi audio, hingga proses kerja dapat diakses lewat suara. “Aksesibilitas bukan fitur tambahan, tapi syarat utama bagi kami untuk bisa bekerja,” kata Rino.
Banyak Digital Audio Workstation (DAW) populer masih bergantung pada klik dan grafis, sehingga menutup peluang bagi difabel netra. Namun, lewat Reaper, mereka bisa menghasilkan karya yang setara dengan editor profesional lain. “Teman netra itu bisa kok, asal diberi kesempatan,” ceritanya.
Rino menekankan, perangkat lunak hanyalah pintu masuk. Kunci utama tetap ada pada pengetahuan teknis, kepekaan pendengaran, dan keberanian beradaptasi dengan standar industri. Saat ini, ia kerap mengerjakan proyek dari sesama difabel netra, mulai dari penggabungan audio drama hingga pembacaan puisi.
Dengan dukungan teknologi yang inklusif dan keterampilan yang terus diasah, difabel netra membuktikan diri mampu bersaing di industri kreatif audio, berkreasi lebih leluasa yang hasilnya bis akita nikmati bersama.
Jurnalis: abdul hadi/abri







