dr Benjamin Kristianto Sebut Penderita Diabetes Anak Karena Faktor Genetik

  • Whatsapp

Caption:
dr Benjamin Kristianto MARS
anggota DPRD provinsi Jatim.

SIDOARJO, beritalima.com|
Penyakit bawaan atau yang disebut sebagai penyakit keturunan, termasuk diantaranya adalah penderita diabetes militus. Penyakit tersebut, jika menjangkiti anak-anak, maka bisa dipastikan anak tersebut seumur hidupnya akan tergantung pada suntikan insulin. Karena organ tubuhnya sedari lahir sudah memiliki kelainan.

Demikian penjelasan yang disampaikan oleh anggota DPRD provinsi Jatim Dr Benjamin Kristianto MARS.

“Jadi kencing manis itu sebenarnya adalah suatu penyakit yang karena gulanya berlebihan dan salah satu faktor adalah misalnya karena pengaruh insulin yang dihasilkan oleh beta pankreas rusak atau tidak berfungsi. Diabetes itu ada 2 tipe. Diabetes tipe 1 disebabkan oleh pankreas yang memecah sel-sel untuk produksi hormon insulin. Sehingga, insulin tidak dapat diproduksi, dan membutuhkan asupan dari luar seperti suntik insulin. Sedangkan diabetes tipe 2 disebabkan oleh kelenjar pankreas yang tidak dapat mencukupi kebutuhan insulin pada tubuh,” sebut Anggota komisi E DPRD provinsi Jatim ini.

dr Beny, panggilan akrab dr Benjamin Kristianto MARS menuturkan, jika timbulnya itu pada anak-anak atau remaja, sejak lahir hal ini disebabkan karena kalau tipe 1 itu memang pankreasnya sebagai pabrik menghasilkan insulin itu yang rusak sehingga dia tidak bisa memberikan produksi insulin yang baik.

“Sedangkan tipe 2 jika diabetes timbulnya pada orang dewasa bukan karena tidak diproduksinya insulin, tetapi itu yang namanya resisten insulin. Insulinnya tetap produksi tetapi sel-sel dalam tubuh kita tidak bisa menangkap insulin itu, jadi kita sebut gangguan pada reseptornya yang disebut sebagai resisten insulin. Sehingga sepertinya seolah-olah tidak ada insulin padahal ada, hanya insulinnya tidak bisa diterima sel dengan baik,” terang Ketua KESIRA Jatim ini.

Anggota fraksi Gerindra DPRD provinsi Jatim ini menuturkan bahwa penyebab penyakit Diabetes Anak dengan dewasa itu memiliki perbedaan, dr Beny menjelaskan bahwa beda pula penanganannya.

“Kalau kita inverter yang tipe 1 sudah ada sejak muda atau sejak remaja atau sejak lahir itu membuat titik terapi dengan insulin, Karena produksi insulinnya memang tidak ada ataupun kurang baik. Sedangkan kalau yang tipe 2 atau tipe dewasa itu disebabkan karena orang itu terlalu gemuk(obesitas) akibatnya terjadi resisten. Perlu dilakukan olahraga, diet, makanya kita perlu mensosialisasikan edukasi pola hidup sehat. Kegiatan merubah perilaku-perilaku, perilaku makan yang terlalu manis-manis, yang mengandung terlalu banyak karbohidrat, nasi, jagung, kentang, ubi terlalu banyak, akan menimbun gula darah,” sambungnya.

“Yang kedua berperilaku banyak bergerak, berolahraga secara rutin dan teratur. Tidak perlu olahraga yang terlalu berat. Cukup jalan kaki setiap hari selama 30 menit. Bersepeda, Banyak menkonsumsi air putih. Di desa-desa lebih banyak orang sehat, berumur panjang, karena mereka pekerja keras. Mereka berjalan kaki ke sawah sampai sekian kilometer. Membajak sawah, sehingga tanpa mereka sadari bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah cara paling tepat pola hidup sehat,” lanjutnya.

dr Beny mengungkapkan bahwa penyakit diabetes sangat rawan terserang stroke, darah tinggi, sakit jantung dan komplikasi. Karena itu, pihaknya menyarankan agar penderita diabetes selain rajin minum obat, lakukan diet dan gemar berolahraga.

dr Beny menambahkan, untuk memutuskan mata rantai terjangkit diabetes, sebaiknya sebelum memutuskan untuk menikah, periksalah kesehatan masing-masing pasangan. Jika salah satu dari mereka menderita diabetes, sebaiknya tidak meneruskan hubungan tersebut. Agar mereka tidak memiliki keturunan pengidap Diabetes.

“Bayi dan anak-anak yang menderita Diabetes, untuk menyembuhkan total, dibutuhkan operasi cangkok pankreas. Atau suatu saat nanti ada penelitian yang terkait dengan penyakit Diabetes bisa memberikan solusi terhadap penderita Diabetes. Kematian yang disebabkan oleh penyakit Diabetes ini masih cukup tinggi. Jadi perlu dilakukan sosialisasi pola hidup sehat,” pungkasnya.(Yul)

beritalima.com

Pos terkait