Ekoteologi Belum Didengar Oleh Masyarakat, Negara pun Harus Hadir Dalam Ceramah di Masyarakat

  • Whatsapp

Jakarta | beritalima.com – Ekoteologi sudah dibahas oleh temen temen keagamaan sebelum terjadi bencana namun pada implikasinya di lapangan belum didengar oleh masyarakat. Yang seharusnya disampaikan di sekolah sekolah dan di masjid masjid dengan menghadirkan Negara saat ceramah.

Konsep ekoteologi disampaikan moderator Prof. H. Andi Faisol Bakti, M.A., Ph.D selaku Wakil Direktur Majelis Muzakarah Masjid Istiqlal (M3I) saat Muzakarah Tematik, Resolusi Umat: Penanggulangan Bencana dengan Eko Teologi digelar si ruang VVIP Masjid Istiqlal, pada Selasa (27/1/2026).

Andi Faisol pun menghubungkan antara ekoteologi dengan bencana dan kitab suci. Hingga terjadinya kerusakan alam akibat tangan tangan usil manusia yang disebabkan oleh dua hal yaitu nature dan culture.

Nature dikatakan Wakil Direktur M3I, terjadi disaster kerusakan lingkungan, sedangkan cultur atas kerusakan lingkungan disebabkan oleh hasil buatan manusia.

“Perbuatan manusia yang kadang kadang kurang kalkulatif hingga malah bisa merusak lingkungan,” tandasnya.

Lebih lanjut dijelaskan Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A yang juga aelaku Imam Besar Masjid Istiqlal menyatkana bahwa ekoteologi terlalu maskjlin atau overmaskulin hingga mengakibatkan struggling, semua ditaklukan, semuanya mau digusur, semuanya mau dibakar, semuanya mau diangkat, senuanya mau dibuldozer, semuanya mau dihancurkan.

“Manusia sudah overacting betul menjadi khalifah ini, Padahal tuhan sendiri lebih menonjol sebagai feminim God. Allah itu lebih menonjol sebagai The Mother of God daripada the Father of God,” tandasnya,” terangnya.

Tandasnya, semua agama itu feminim dan lembut, olah karena itu ekoteologi yang maskulin itu harus menjadi dermaskulinisasi. Lanjutnya menjinakkan kerakusan anak manusia terhadap Allah, hanya bahasa agama yang bisa menyadarkan masyarakat untuk menyayangi alam semesta.

“Semakin cepat rusaknya alam semesta semakin cepat datangnya kiamat,” terangnya.

Pungkasnya, ekoteologi pertama kali dilontarkan Menteri Agama, ekoteologi kurikulum cinta namun sempat dikiritik teman teman karena dianggap bahasa kampus bukan bahasa birokrasi.

“Nah sekarang enggak ada alasan, karena tokoh-tokoh ulamanya juga masuk di sentra power di situ kan. Saya sebagai ulama, ya tentu saya harus menyurahkan apa adanya. Inilah ekoteologi, inilah kurikulum cinta. Jadi Menteri Agama wajib menyurahkan ekoteologi dan cinta,” pungkasnya.

Ditambahkannya harus berani menyuarakan, resikonya terserah tuhan, mau direshuffle atau tidak menurut Nasaruddin Umar, itu urusan lain. “Jadi kita perlu menyuarakan kebenaran jangan takut,” imbuhnya.

Pada kesempatan itu, hadir dua narasumber yaitu Raditya Jati selaku Deputi mewakili Kepala BNPB dan Fachri mewakili Kepala BMKG.

Jurnalis: Dedy Mulyadi

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com

Pos terkait