Makassar, beritalima.com|- Ekspedisi Dakwah Kawan Netra menuntaskan sekaligus perkuat rangkaian pelatihan guru Al-Quran Braille dan pelatihan digital bagi difabel netra di Sulawesi Selatan (Sulsel), berlangsung sejak 17 Januari dan berakhir di Kabupaten Luwu pada 24–26 Januari 2026.
Pelatihan dimulai di Yayasan Pembina Tunanetra Indonesia (Yapti) Makassar pada 17–20 Januari, berlanjut ke Kabupaten Gowa pada 20–22 Januari, dan ditutup di Luwu dengan pola kegiatan serupa.
Kepala SLB YAPTI Makassar Subuh, menilai pelatihan ini bukan sekadar peningkatan keterampilan teknis, melainkan kesinambungan dakwah melalui ilmu. “Yang paling berbobot menurut saya adalah pelatihan Al-Qur’an Braille. Karena ketika kita mengajarkan kepada orang lain, di situlah amal jariyah itu mengalir,” ujarnya.
Pendiri Yayasan Urunan Kebaikan sekaligus inisiator Kawan Netra, Gusti Mohammad Hamdan Firmanta mengungkapkan praktik distribusi Al-Quran Braille lerap tidak diiringi dengan kemampuan membaca. “Saya dulu mengira semua tunanetra bisa membaca Al-Qur’an Braille. Ternyata tidak,” kisahnya.
Pada sesi terakhir, peserta diberi kesempatan mempraktikkan kemampuan mengajar sekaligus melakukan evaluasi. Heriansyah, salah satu peserta, menyebut pelatihan ini membuka perspektif baru. “Dengan adanya pelatihan ini, kami mendapatkan panduan-panduannya, sehingga memudahkan kami mengajar dan memudahkan murid untuk lebih cepat memahami,” pujinya.
Ekspedisi Dakwah Kawan Netra tidak hanya memberi bekal teknis membaca dan mengajar Al-Quran Braille, tapi juga menegaskan pentingnya akses penidikan ilmu agama yang setara bagi difabel netra. Gerakan ini menjadi langkah nyata memberantas buta huruf Al-Quran sekaligus memperkuat dakwah inklusif di Sulsel.
Jurnalis: abdulhadi/abri








