Fenomena Cahaya di Langit Bukan Meteor Ini Penjelasan Ilmiah BRIN

  • Whatsapp
Penjelasan BRIN Soal Fenomena Cahaya di Langit.

Menurut Thomas, objek tersebut tampak sangat terang karena memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi, yang dapat mencapai lebih dari 7 kilometer per detik. Saat memasuki lapisan atmosfer yang semakin padat, terjadi proses yang disebut ablasi, yaitu gesekan antara permukaan benda dengan partikel udara. Gesekan ini menghasilkan panas yang sangat tinggi hingga ribuan derajat Celsius, sehingga material roket terbakar dan memancarkan cahaya terang yang dapat terlihat dari permukaan Bumi.

“Objek terang yang terlihat di langit itu merupakan pecahan sampah antariksa. Ketika memasuki atmosfer yang semakin padat, benda tersebut mengalami pemanasan hebat, terbakar, dan pecah menjadi beberapa bagian sehingga tampak seperti serpihan cahaya yang bergerak cepat,” jelas Thomas, Minggu (5/4).

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data pelacakan dari Space-Track serta analisis orbit lanjutan, lintasan sisa roket tersebut bergerak dari arah India menuju Samudera Hindia di sebelah barat Pulau Sumatera. Sekitar pukul 19.56 WIB, objek tersebut telah turun hingga ketinggian di bawah 120 kilometer, yaitu wilayah yang merupakan batas awal atmosfer padat.

Pada ketinggian tersebut, kerapatan udara meningkat secara signifikan sehingga gaya hambat udara bertambah besar. Akibatnya, objek kehilangan kecepatan dan ketinggian dengan cepat. Kombinasi antara tekanan udara dan suhu tinggi menyebabkan struktur roket tidak mampu bertahan, sehingga mengalami fragmentasi atau pecah menjadi banyak bagian kecil. Fragmen-fragmen inilah yang terlihat sebagai garis-garis cahaya di langit malam.

Sebagian besar fragmen akan habis terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi. Namun, apabila terdapat bagian yang cukup besar dan tahan panas, seperti komponen berbahan logam, terdapat kemungkinan kecil bagian tersebut dapat mencapai permukaan. Berdasarkan perhitungan lintasan, area jatuh diperkirakan berada di wilayah terpencil, seperti laut atau hutan, sehingga risiko terhadap masyarakat sangat kecil.

Thomas menegaskan bahwa fenomena jatuhnya sampah antariksa merupakan bagian dari dinamika aktivitas antariksa global yang lazim terjadi. Ribuan objek buatan manusia, seperti satelit yang sudah tidak aktif maupun tahap roket, mengorbit Bumi dan secara bertahap mengalami penurunan ketinggian akibat interaksi dengan atmosfer.

Peristiwa serupa sebelumnya pernah terjadi di Indonesia, salah satunya pada tahun 2022 ketika objek antariksa terlihat melintas di Lampung dan sebagian jatuh di wilayah Sanggau, Kalimantan Barat. Meskipun demikian, kejadian yang dapat disaksikan secara langsung oleh masyarakat tergolong jarang.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat catatan korban jiwa akibat jatuhnya sampah antariksa di dunia. Hal ini disebabkan oleh sebagian besar material yang terbakar habis di atmosfer serta luasnya wilayah laut dan daerah tidak berpenghuni di permukaan Bumi.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik apabila melihat fenomena serupa di masa mendatang. Selain tidak berbahaya, fenomena ini dapat menjadi sarana edukasi publik dalam meningkatkan pemahaman mengenai ilmu pengetahuan, khususnya di bidang astronomi dan keantariksaan.

BRIN/RED 

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait