Jakarta, beritalima.com|- Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menghadiri pembukaan Galeri Budaya Tionghoa Indonesia di kawasan Pantjoran PIK, Jakarta (23/1).
Galeri ini dihadirkan sebagai ruang edukasi dan interaksi publik yang merekam perjalanan sejarah, ketangguhan, serta kontribusi masyarakat Tionghoa sebagai bagian penting dari kebudayaan Indonesia.
“Budaya adalah modal masa depan. Sejarah, seni, tradisi, dan cerita hidup yang diolah secara kreatif mampu melahirkan nilai tambah ekonomi, membuka ruang inovasi, serta memperkuat daya saing pegiat kreatif,” ujar Teuku Riefky.
Galeri Budaya Tionghoa Indonesia menampilkan ruang tematik menggambarkan dinamika komunitas Tionghoa, mulai dari proses kedatangan, pengalaman lintas generasi, hingga praktik akulturasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya. Pendekatan kuratorial tersebut memperkuat pesan kebersamaan sekaligus memperkaya pemahaman publik terhadap keberagaman.
Menteri Ekraf menambahkan, “nilai akulturasi, kebersamaan, dan keberagaman yang ditampilkan di ruang seperti ini mengingatkan kita bahwa perbedaan adalah kekuatan yang menyatukan bangsa sekaligus memperkaya industri kreatif.”
Kehadiran Galeri Budaya Tionghoa Indonesia membuka peluang kolaborasi lintas komunitas, pendidikan, dan industri kreatif, sekaligus mendorong lahirnya produk kreatif berbasis narasi budaya, desain, seni pertunjukan, hingga konten edukatif. Galeri ini diharapkan menjadi platform dialog antargenerasi yang relevan dengan konteks kekinian.
CEO of Amantara Agung Sedayu Group Natalia Kusumo mengatakan Galeri Budaya Tionghoa Indonesia hadir sebagai ruang edukasi sejarah ditampilkan secara inovatif, sehingga informasi mudah dipahami.
“Di dalam ada animasi, ada foto-foto, ada bacaan-bacaan dan juga experience yang paling penting merasakan suasana ketika leluhur dari warga Indonesia yang berasal dari Tionghoa,” ujarnya.
Kementerian Ekraf mendorong pemanfaatan ruang budaya sebagai sarana mengembangkan berbagai subsektor kreatif berbasis kekayaan intelektual, pengalaman pengunjung, serta inovasi kuratorial. Integrasi budaya dan kreativitas diyakini mampu memperluas pasar, meningkatkan kualitas karya, serta memperkuat identitas nasional di tingkat internasional.
Jurnalis: abri/dedy








