Jakarta, beritalima.com|- Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin melepas 344 Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) sektor profesional dalam acara seremonial yang berlangsung di Kamus Universitas Binawan, Kalibata, Jakarta Timur (10/3).
Para pekerja akan ditempatkan di berbagai negara di Asia dan Eropa untuk mengisi posisi strategis mulai dari perawat, insinyur (Gijinkoku), hingga pramugari.
Muktarudin memberikan apresiasi tinggi kepada Binawan Group sebagai pionir penempatan tenaga kerja sejak 1976 ke internasional. Mukhtarudin menilai ekosistem yang dibangun pihak swasta tersebut sejalan dengan visi pemerintah dalam menciptakan tenaga kerja yang kompeten dan berdaya saing global.
Ditekankan pentingnya konsep brain circulation (sirkulasi talenta), di mana pekerja migran tak hanya mencari nafkah di luar negeri, tapi juga membawa kembali ilmu dan pengalaman untuk membangun tanah air.
“Kita harapkan mereka melakukan brain circulation. Ketika kontrak selesai, mereka kembali ke Indonesia untuk berwirausaha atau mengabdi kembali di sektor profesional. Banyak alumni yang kini mentransfer pengetahuan mereka kepada calon pekerja baru. Ini adalah ekosistem yang sehat,” ujar Mukhtarudin.
Binawan University telah menjadi role model melalui layanan one stop service yang mencakup proses pendidikan, penempatan, hingga pemberdayaan purna-migran.
Menanggapi tingginya permintaan tenaga kerja dari negara-negara maju, Mukhtarudin menyoroti fenomena aging population (penuaan penduduk) yang melanda Eropa dan sebagian Asia seperti Jepang dan Korea Selatan.
Di sisi lain, Indonesia sedang menikmati bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif melimpah. “Mereka butuh tenaga kerja produktif, kita punya kelebihan. Ini seperti botol bertemu katupnya. Sekarang orientasi kita adalah sektor profesional seperti hospitality, manufaktur, engineering, dan perawat,” paparnya.
Bahkan, tercatat beberapa lulusan sarjana (S1) dari universitas ternama seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) turut memperkuat kompetensi mereka di Binawan sebelum berangkat ke Jepang untuk sektor manufaktur dan teknik.
Terkait isu keamanan di beberapa wilayah penempatan, khususnya di Timur Tengah, Muktarudin menegaskan, pemerintah tetap hadir melalui peran regulator dan fasilitator.
Pemantauan Ketat, KP2MI selalu berkoordinasi intensif dengan KBRI dan KJRI sebagai garda terdepan di negara penempatan. Adapun, layanan Hotline yakni menyediakan saluran komunikasi darurat bagi Pekerja Migran yang menghadapi kendala.
Jurnalis: abri/dedy








